Meski demikian, Pfizer-BioNTech mengatakan mereka akan melanjutkan rencana untuk menyediakan vaksin khusus Omicron di pasaran. Upaya untuk itu sudah mereka lakukan sejak 25 November.
Mereka mengatakan rencana untuk memproduksi empat miliar dosis vaksin Comirnaty pada 2022 tetap sesuai jadwal jika vaksin khusus diperlukan.
Bahkan jika mulai tersedia pada Maret, vaksin itu belum akan tersedia secara luas, mungkin hanya 25-75 juta dosis pada tahap awal.
Ilmuwan Pfizer Kena Swanson mengatakan perusahaannya juga mempertimbangkan untuk menguji dua dosis vaksin Omicron pada orang-orang yang belum divaksin.
Temuan Pfizer-BioNTech itu sejalan dengan studi awal para peneliti di Institut Penelitian Kesehatan Afrika di Afrika Selatan, yang pada Selasa (7/12) mengatakan bahwa Omicron secara parsial bisa mengurangi perlindungan dari dua dosis vaksin Pfizer/BioNTech dan suntikan ketiga mungkin akan membantu menangkal infeksi.
Penelitian terhadap varian baru ini masih berada di tahap awal. Analisis laboratorium di RS Universitas di Jerman menemukan bahwa orang-orang yang telah disuntik tiga dosis memiliki respons antibodi terhadap Omicron 37 kali lebih rendah daripada respons mereka terhadap Delta.
Meski begitu, 2 dosis vaksin masih memberikan perlindungan terhadap penyakit parah, kata Pfizer-BioNTech.
Sebagian besar struktur permukaan pada paku protein Omicron yang disasar sel-sel T, yang biasanya muncul setelah vaksinasi, tidak terpengaruh oleh mutasi Omicron, kata mereka.
Sel T, bersama antibodi, adalah pilar dari respons kekebalan tubuh dan dipercaya mencegah penyakit parah dengan menyerang sel-sel yang terinfeksi virus.
Untuk kebutuhan analisis, kedua perusahaan menggunakan sebuah virus yang direkayasa (pseudovirus) agar memiliki ciri-ciri seperti mutasi Omicron. Sampel darah lalu dikumpulkan dari subjek penelitian tiga pekan setelah dosis kedua atau satu bulan setelah dosis ketiga.
Hingga saat ini, belum ada data yang cukup tentang bagaimana vaksin dari Moderna, Johnson & Johnson, dan lainnya, bertahan dari Omicron. Namun, perusahaan-perusahaan farmasi itu diperkirakan akan merilis data mereka sendiri dalam pekan-pekan ke depan.
Berita Terkait
-
Babad Mangir: Ketika Kekuasaan Menaklukkan Lawan dengan Siasat Cinta
-
Lawan Arus di Rawa Buaya, Warga Minta Jalur Alternatif ke Duri Kosambi
-
Aksi Penembakan Pecah di Festival Budaya Lembah Baliem Papua, 2 Orang Jadi Korban
-
Juniver Girsang Ingatkan RUU Perampasan Aset Jangan Jadi Alat Menghabisi Lawan Politik
-
Arogan Ngaku Anggota TNI, Pemotor Lawan Arah di Depok Akhirnya Melas Minta Maaf
Terpopuler
- Jokowi Tak Lagi Optimis Prabowo-Gibran 2 Periode, Gerindra Respons Santai: Pilpres Masih Jauh
- KPU Bisa Tindaklanjuti Putusan MK dengan Menyatakan Syarat Pendidikan Gibran di Pilpres 2024 Tak Sah
- Selundupkan 1.689 Burung Liar ke Jakarta, Bus Sinar Jaya Dicegat di Pelabuhan Bakauheni
- Profil Suhartoyo, Ketua MK yang Menolak Gugatan Soal Ijazah Gibran
- Jokowi Tampak Tak Lagi Optimistis Gibran Jadi Pasangan Prabowo di Pilpres 2029
Pilihan
-
Inilah 5 Menteri yang Kinerjanya Paling Buruk Menurut Survei CELIOS
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
Terkini
-
Di Tengah Euforia MotoGP Mandalika, BRI Peduli Ajak Pengunjung Jaga Kebersihan Lingkungan
-
BRI Jadi Merek Paling Bernilai di Indonesia, Sektor Perbankan Sumbang 45% Nilai Merek Nasional
-
Sensasi Petik Melon Hidroponik Langsung dari Kebun di Bojonggede
-
Mewah dan Strategis, Segini Kisaran Harga Rumah di Area CBD Sentul Terbaru
-
Lapas Cibinong Diduga Terlibat Korupsi, Menko Yusril Persilakan KPK hingga Polri Turun Tangan