Andi Ahmad S
Kamis, 08 Oktober 2026 | 13:17 WIB
WALHI Jawa Barat kembali mengunjungi EIGER Nature untuk melihat langsung perkembangan [Ist]
Baca 10 detik
  • WALHI Jawa Barat mengapresiasi keterbukaan EIGER Nature dalam menindaklanjuti masukan terkait pelestarian lingkungan pada Rabu, 7 Oktober 2026.
  • Hasil peninjauan lapangan menunjukkan bahwa EIGER Nature telah memenuhi seluruh kelengkapan perizinan serta dokumen lingkungan sejak tahun 2018.
  • Direktur Eksekutif WALHI Jabar berharap pengelolaan jangka panjang EIGER Nature dapat menjadi contoh teladan bagi pelaku usaha lain.

"EIGER Nature ini masih berada di tahap awal dan akan berlangsung dalam jangka panjang. Kalau terus dilakukan dengan serius dan terus melibatkan tim pakar, akademisi, serta NGO, ini bisa menjadi pilot project atau menjadi pembelajaran bagi pengusaha lain yang menjalankan kegiatan berbasis alam," kata Iwang.

Ia berharap EIGER Nature dapat menjadi contoh bagi pelaku usaha lain yang ingin mengembangkan kegiatan berbasis alam tanpa mengesampingkan aspek lingkungan.

"Harapannya, EIGER Nature bisa menjadi contoh baik bagi pengusaha lain. Komitmen ini perlu terus dijalankan dan diperkuat, dengan tidak mengesampingkan aspek lingkungan," sambungnya.

Sementara itu, Direktur Utama EIGER Nature Imanuel Wirajaya mengatakan, keterlibatan berbagai pihak merupakan bagian dari konsep Pentahelix yang diterapkan dalam proses pengelolaan kawasan.

Menurut Imanuel, kolaborasi tersebut menjadi ruang untuk mengevaluasi berbagai kegiatan yang telah dilakukan sekaligus menentukan hal-hal yang masih perlu diperbaiki.

"EIGER Nature dibangun melalui proses kolaboratif yang melibatkan berbagai pihak. Kami ingin membuka ruang agar masukan dan kritik tidak hanya disampaikan, tetapi juga dapat dilihat kembali secara langsung di lapangan, apa yang sudah dilakukan, apa yang sudah baik untuk dipertahankan, dan apa yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan," ujar Imanuel.

Ia mengatakan, keterlibatan berbagai pihak merupakan bagian dari perjalanan EIGER Nature untuk terus belajar dan memperkuat komitmennya terhadap alam, budaya, masyarakat serta keberlanjutan kawasan.

"Kami percaya, menjaga alam adalah perjalanan bersama. Dari keterbukaan, kritik, ilmu pengetahuan, dan kolaborasi, kita dapat menciptakan pengalaman di alam yang bermakna bagi manusia sekaligus membawa kebaikan bagi alam dan generasi mendatang," tutupnya.

Baca Juga: Dedie Rachim: Leuweung Batutulis Tak Bisa Sepenuhnya Jadi Hutan Kota

Load More