Scroll untuk membaca artikel
Andi Ahmad S
Senin, 12 April 2021 | 21:10 WIB
Lokasi wisata perkemahan Camp Batu Gede, Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, terlihat sepi meski sudah kembali beroperasi, Senin (12/4/2021). [Suarabogor.id/Regi Pranata Bangun]

SuaraBogor.id - Penyekatan yang dilakukan Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 Kabupaten Bogor di wilayah Puncak Bogor setiap Sabtu dan Minggu, menyebabkan berkurangnya wisatawan.

Salah satunya yang terkena imbas penyekatan wisatawan di Puncak Bogor yakni, lokasi wisata perkemahan Camp Batu Gede, yang berlokasi di Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor.

Akibat, sebagian besar pegawainya pun terpaksa dirumahkan pada pertengahan April 2020 lalu.

“Iya tepat satu tahun ini Covid-19 sangat terasa dampaknya,” kata Pengelola Camp Batu Gede, Hendrik kepada Suarabogor.id -jaringan Suara.Com, Senin (12/4/2021).

Baca Juga: Camat Cisarua Tak Mau Main-main soal Usulan Pemekaran Bogor Selatan

Menurut Hendrik, secara keseluruhan ada 75 pegawai di Camp Batu Gede dan sebanyak 37 orang yang dirumahkan saat itu.

Lokasi perkemahan ini pun sempat tutup. Tak terhitung lagi berapa banyak kerugian yang dirasakan sehingga tak dapat memberikan upah kepada sebagian pegawainya.

Hendrik menyebut, kelonggaran yang diberikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor saat ini pun tidak dapat membuat jumlah wisatawan meningkat.
Apalagi, katanya, jika ada penyekatan di Simpang Gadog yang kerap digelar di akhir pekan maupun hari-hari libur sangat berdampak besar.

“Aduh penyekatan ini dampaknya bener-bener sepi kawasan wisata. Padahal ketentuan Prokes sudah kami lakukan tetapi tetap saja tidak ada kebijakan yang betul-betul membuat peningkatan ekonomi masyarakat khususnya pengusaha lokasi wisata,” ungkapnya.

Dia mengaku, sebagian karyawan yang sempat dirumahkan kembali dipekerjakan. Namun kali ini berbeda. Mereka bukan lagi mengelola Camp Batu Gede melainkan bercocok tanam.

Baca Juga: Polisi Bongkar Praktik Prostitusi Online di Apartemen Bogor

Ia menguraikan, sejumlah pegawai ada yang menanam jeruk limo, lemon, hingga beternak hewan yang kemudian hasilnya dapat dijual dan membantu sektor perekonomian pegawai semasa terdampak Covid-19.

“Kami berharap pemerintah bisa memberikan kebijakan yang lebih bijak lagi,” singkatnya.

Sebelumnya, Suasana Taman Wisata Matahari (TWM), Cisarua, Kabupaten Bogor, nampak berbeda. Sejak pagi hilir mudik wisatawan terbilang cukup sepi, tidak ada kepadatan pengunjung di sana.

Pantauan Suara.com di lokasi, kelenggangan keluar masuknya wisatawan di sana semakin hilang.

Sekitar pukul 15.00 WIB, hanya ada satu kendaraan berbentuk gajah yang mengantarkan wisatawan menuju pintu loket seusai menikmati beberapa wahana di dalam sana.

Menurut General Manager TWM Herwan Setiawan, kelenggangan wisatawan di TWM saat ini lantaran berkurangnya jumlah pengunjung yang datang.

“Menurun rata-rata per hari 300 sampai di akhir pekan juga sama saja,” katanya.

Herwan menilai, penurunan wisatawan akibat berbagai kebijakan yang diterapkan pada masa pandemi Covid-19 saat ini.

Disinggung perubahan wahana menjadi penyebab, ia mengaku, saat ini seluruh wahana yang ada sudah dapat dinikmati oleh wisatawan.

“Sudah semuanya bisa dinikmati. Sudah tidak ada perubahan. Bahkan pengunjung tidak mencapai 50 persen seperti kebijakan pemerintah,” ungkapnya.

Penurunan pengunjung tentu berdampak kepada pemasukan TWM. Herwan menyebut, pihaknya pun terpaksa melakukan pengurangan jumlah karyawan lantaran perekonomian perusahaan yang semakin hari semakin menipis.

“Kita kurangi total hari kerjanya misal 30 hari kami kurangi 10 hari,” bebernya.

Seperti diketahui TWM memiliki total 300 karyawan, setelah 16 diantaranya harus dirumahkan untuk beberapa waktu yang tK dapat ditentukan.

“Iya kita rumahkan hanya 16,” tukasnya.

Kontributor : Regi Pranata Bangun

Load More