Andi Ahmad S
Selasa, 03 November 2026 | 19:16 WIB
Jerry, saat melayani seorang pelanggan yang membeli kelapa mudanya. [Dziharul Islam Nusantara/Suara Bogor]
Baca 10 detik
  • Dua mantan sopir angkot di Bogor menyulap kendaraan tua mereka menjadi lapak kelapa muda akibat sepi penumpang.
  • Sejak sekitar Oktober 2026, Ari dan Jerry menjalankan usaha baru di Kelurahan Curug untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
  • Hasil penjualan kelapa muda memberikan pemasukan harian yang lebih pasti dibandingkan saat menjadi sopir angkot.

SuaraBogor.id - Angkot tua berwarna hijau itu kini tak lagi mengangkut penumpang. Bagian belakangnya telah dimodifikasi menjadi bak terbuka untuk menampung puluhan kelapa muda yang dijajakan setiap hari.

Di Kelurahan Curug, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Jawa Barat, kendaraan yang dulunya menjadi sumber penghidupan di jalanan kini berubah fungsi menjadi lapak dagangan.

Adalah Ari (56), yang memanfaatkan angkot tersebut untuk berjualan kelapa muda. Tak jauh dari tempatnya, tepatnya di seberang jalan, keponakannya, Jerry (30), menjalankan usaha serupa.

Keduanya memiliki cerita yang hampir sama. Setelah bertahun-tahun menjadi sopir angkot, mereka akhirnya memilih beralih profesi karena semakin sulit mendapatkan penumpang.

Pantauan SuaraBogor.id di lokasi, sejumlah bagian bodi angkot milik Ari tampak berkarat. Tumpukan kelapa muda memenuhi bagian belakang kendaraan yang telah dimodifikasi menjadi semi bak.

Dengan sebilah pisau dan bantuan sebatang kayu sebagai tumpuan, Ari mengupas kelapa satu per satu sebelum disajikan kepada pembeli.

Bagi Ari, perubahan fungsi angkot tersebut bukan sekadar pergantian usaha. Ada kebutuhan keluarga yang harus tetap dipenuhi di tengah semakin sulitnya mencari nafkah sebagai sopir angkutan umum.

Ari mengaku sudah menjadi sopir angkot sejak sekitar 1990-an. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, penghasilannya semakin tidak menentu karena jumlah penumpang terus berkurang.

"Sekarang kan nyari penumpang udah susah," kata Ari saat ditemui SuaraBogor.id, Selasa (3/11/2026).

Baca Juga: KPK Sita Rp106,3 Miliar di Kasus ATR/BPN, Kuasa Hukum Summarecon Buka Suara

Sekitar sebulan lalu, ia mulai berjualan kelapa muda menggunakan angkot yang telah dimodifikasi. Kendaraan tersebut bukan miliknya sendiri, melainkan fasilitas dari pemilik usaha yang memberinya kesempatan untuk mencari penghasilan.

"Ya kita ada donatur yang mau ngasih jalan usaha dari kelapa, ya kita akhirnya beralihlah, gitu," ujarnya.

Menurut Ari, memanfaatkan angkot tua menjadi pilihan yang lebih terjangkau dibandingkan harus membeli mobil pikap. Biaya modifikasi kendaraan itu sekitar Rp2 juta.

Kini, ia menjual kelapa muda dengan harga bervariasi, mulai Rp6.000 untuk ukuran kecil, Rp8.000 ukuran sedang, hingga Rp10.000 untuk ukuran besar.

Setiap hari, Ari mulai berjualan pukul 08.00 hingga 18.00 WIB. Pada hari biasa, ia membawa sekitar 50 buah kelapa. Sementara saat hari libur, jumlahnya bisa meningkat hingga 100 buah.

Dari usaha tersebut, Ari mengaku bisa memperoleh pendapatan bersih sekitar Rp100.000 ketika sepi dan mencapai Rp150.000 saat ramai.

Penghasilan itu dinilai lebih membantu dibandingkan ketika masih menjadi sopir angkot. Saat penumpang sepi, ia terkadang hanya membawa pulang Rp50.000, bahkan pernah tidak mendapatkan uang sama sekali.

Ari memiliki empat anak. Dua di antaranya sudah menikah, sedangkan dua lainnya masih duduk di bangku SMP dan SMA.

Kebutuhan rumah tangga dan biaya pendidikan anak menjadi alasan utama dirinya mencari sumber penghasilan lain.

Ia mengaku sempat khawatir tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga jika terus mengandalkan penghasilan dari angkot. Kini, meski hasil berjualan kelapa belum selalu mencukupi seluruh kebutuhan, setidaknya ada pemasukan setiap hari.

"Ya kita kan di sini enggak cari kekayaan, kita cuma cari makan," ucapnya.

Cerita serupa juga dijalani Jerry. Keponakan Ari itu mulai menjadi sopir angkot pada 2018 sebelum akhirnya memutuskan beralih menjadi pedagang kelapa muda.

"Saya sopir dari tahun 2018, karena berhubung nyari penumpang udah susah makanya saya beralih jadi tukang kelapa di mobil angkot yang saya modif ini," kata Jerry.

Berbeda dengan kendaraan yang digunakan Ari, angkot milik Jerry membutuhkan biaya modifikasi lebih besar, yakni sekitar Rp8 juta hingga Rp10 juta.

Proses renovasi berlangsung selama kurang lebih dua bulan. Bagian bodi kendaraan dipotong dan diubah menjadi semi bak agar bisa digunakan untuk mengangkut sekaligus menata kelapa muda.

Baginya, kendaraan lama tersebut masih memiliki nilai guna daripada dibiarkan tidak terpakai.

"Makanya kita akalin buat usaha, lumayan ada pemasukan buat anak dan istri," ujarnya.

Jerry juga menjalankan usaha tersebut dengan fasilitas dari pemilik usaha. Ia menyebut pemiliknya berupaya memberikan kesempatan bekerja agar para pekerja tetap memiliki penghasilan.

Menurut Jerry, berjualan kelapa muda membuatnya tidak lagi terlalu memikirkan setoran seperti saat menjadi sopir angkot.

Ketika masih mengemudi angkutan umum, ia harus tetap memikirkan biaya operasional dan setoran meskipun penumpang sedang sepi.

"Kalau lagi sepi juga pas jadi sopir mah suka kepikiran setoran," katanya.

Meski begitu, usaha berjualan kelapa juga memiliki tantangan. Salah satunya faktor cuaca. Saat hujan turun, jumlah pembeli biasanya berkurang.

Dalam sehari, Jerry bisa menjual sekitar 40 hingga 50 buah kelapa saat kondisi sepi. Sementara pada hari libur, penjualannya dapat mencapai 70 hingga 100 buah.

Ia mulai berdagang sekitar pukul 08.00 hingga 18.00 WIB. Dari hasil penjualan tersebut, Jerry kini mengandalkan pemasukan harian untuk membantu memenuhi kebutuhan anak dan istrinya.

"Ya enak dagang kelapa sih, pemasukannya ada setiap hari," tuturnya.

Di dua sisi jalan yang saling berhadapan, Ari dan Jerry kini menjalani kehidupan baru dengan kendaraan lama mereka.

Angkot yang dahulu digunakan untuk mengejar penumpang kini menjadi tempat menggantungkan harapan. Bukan lagi dengan menarik ongkos perjalanan, melainkan menjajakan kelapa muda demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Kontributor : Dziharul Islam Nusantara

Load More