SuaraBogor.id - Sejarah mengenai perlawanan rakyat Indonesia, di Kabupaten Cianjur, khususnya diwilayah Cianjur Selatan masih minim ketahui para generasi muda, bahkan hanya sebagian masyarakat yang mengetahuinya, seperti dua pejuang Kemerdekaan asal Cianjur.
Perjuangan rakyat di Cianjur Selatan, hampir terjadi diwilayah Kecamatan Kadupandak, Tanggeng, Sukanagara, Agrabinta, hingga Sindangabarang. Disetiap wilayah tersebut dipimpin oleh para pejuang asli daerah Cianjur.
Namun dari antara beberapa pimpianan pejuang yang paling terkenal pada saat itu, di oleh sebagaian masyarakat Cianjur Selatan, yaitu Muhammad Uci Soleh. Sabtu (14/8/2021).
Berdasarkan sumber yang dipeoleh SuaraBogor.id, Muhammda Uci Soleh merupakan sosok pejuang yang paling dicari tentara Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) atau militer angkatan laut dari Kerjaan Belanda disaat perang kemerdekaan dan pasca Kemerdekaan sekitar tahun 1943 sampai 1948 lalu.
Ubed (73) anak kedua Muhammad Uci Soleh, mengisahkan, saat jaman kemerdekaan dan pasca Kemerdekaan beliau masuk dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan memiliki puluhan bawahan.
Pasukan KNIL, tidak hanya memburu pejuang kelahiran 17 Agustus 1920 silam itu. Akan tetapi rekan sekaligus sang pamanya yaitu Tuhfi Syamsudin merupakan sosok pejuang yang paling dicari oleh pasukan KNIL.
"Bapak memiliki banyak bawahan, namun orang yang paling dekat pada saat melakukan perlawanan terhadap pasukan KNIL, diantaranya yaitu, Tatang, Darja, Misbah dan sang pamannya yaitu, Tuhfi Syamsudin," kisah Ubed
Muhammda Uci Soleh dan Tuhfi Syamsudin serta beberapa bawahannya tersebut, merupakan putra asli kelahiran Desa Bojonglarang, Kecamatan Kadupaten, dan setelah dimekarkan Desa Bojonglarang masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Cijati.
Perjuangan Muhammad Uci Soleh serta pejuang lainnya itu, tidak hanya berjuang diwilayah Cianjur Selatan, tetapi mereka pun sempat ditugaskan ke Jogjakarta dan wilayah Gunung Rusah disekitaran Bogor - Sukabumi, hingga Bandung.
Baca Juga: Lagu Indonesia Raya: Sejarah, Pencipta, Sikap Khusus, Fakta Menarik
"Bapak waktu itu dengan rekan - rekannya pergi ke Jogjakarta dengan berjalan kaki, untuk menemui para tentara Belanda untuk melakukan negosiasi dengan berjalan kaki. Namun sesampainya di Jogjakarta mereka malah dijebak, sehingga kembali lagi ke Cianjur Selatan," ucapnya.
Meski Muhammad Uci Soleh, dan rekan - rekannya telah kembali pulang ke Cianjur Selatan, namun para tentara KNIL masih mencarinya hingga ke Desa Bojonglarang, bahkan sejumlah beberapa rumah para pejuang itu, dirusak hingga ada juga dibakar.
Puluhan para pejuang, termasuk Muhammad Uci Soleh dan para bawahannya itu, terpaksa melarikan diri bersama istri hingga anak - anaknya kedalam hutan sekitar Kampung Cicurug yang berada di sebrang Sungai Cibuni.
"Saat itu saya, masih berusia sekitar 5 tahun, masih sangat jelas saat itu, para tentara Belanda sangat banyak bahkan diantara mereka dengan sengajak membakar rumah," kata Hindun Tuhfi (78) putri pertama dari pejuang Tuhfi Syamsudin.
Hindun mengisahkan, pada saat itu para pejuang hanya bersenjatakan golok yang berukuran panjang, senjat api laras pendek serta bambu runcing.
Pencarian KNIL terhadap Muhammad Uci Soleh dan para pejuang lainnya tidak hanya berhenti begitu saja, segala cara mereka lakukan, bahkan hingga membayar warga lokal dengan sepotong roti, untuk memberitahukan keberadaan para pejuang pemerdekaannya.
Tag
Berita Terkait
-
Timnas Indonesia U-20 TC ke Turki, Hadapi Dua Lawan Berat, Siapa Saja Mereka?
-
Rupiah di Bibir Rekor Terlemah
-
Dasco Minta Kritik Malaysia dan Singapura soal Kabut Asap Dijawab dengan Kerja yang Dapat Diuji
-
Sanjie Rilis 'Pertemuan Berikutnya': Kidung Hangat tentang Berpisah dan Mendewasa
-
Pertamina Ajak Anak Muda Jadi Penggerak Inovasi Indonesia di Momentum Sumpah Pemuda
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Dari Cisarua ke Dramaga, Dugaan Keracunan MBG di Bogor Belum Temukan Titik Terang
-
20 Tahun Mengabdi, Irsan Jadi Calon Tunggal Ketua BPC Gapensi Kabupaten Bogor
-
Dini Hari Kelam di Cigudeg, Motor Trail Honda CRF Milik Warga Wargajaya Raib
-
Siap Sambut Pengunjung Mulai 2 November, Eiger Nature Wadahi Konservasi dan Pemberdayaan Warga Bogor
-
Dugaan Keracunan MBG di Dramaga, Dua SMP Terapkan PJJ Selama Dua Hari