SuaraBogor.id - Masyarakat Indonesia khusunya Bogor tentu tidak asing lagi mendengar wisata Kebun Raya Bogor. Ternyata ada sejumlah fakta dan sejarah menarik yang belum diketahui.
Kebun Raya Bogor memiliki sejarah yang cukup panjang, dari mulai tertua se-Asia Tenggara hingga masuk dalam daftar warisan dunia.
Berikut sederet fakta dan sejarah menarik mengenai Kebun Raya Bogor dilunik dari Ayojakarta -jaringan Suara.com.
Masuk Dalam Daftar Sementara Warisan Dunia
Sejak tahun 2018 silam, Kebun Raya Bogor masuk dalam daftar Sementara Warisan Dunia atau Tentative List Unesco World Heritage Site. Hal itu lantaran panjangnya sejarah Kebun Raya Bogor dan kekayaan keanekaragaman tumbuhan yang ada di sana.
Dalam laman itu juga tercatat, awalnya Kebun Raya Bogor hanya digunakan sebagai kebun percobaan bagi tanaman perkebunan yang akan diperkenalkan di Hindia Belanda.
Namun pada perkembangannya pendirian Kebun Raya Bogor nyatanya mengawali perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia, sekaligus sebagai wadah berhimpunnya ilmuwan bidang botani di Indonesia secara terorganisasi pada tahun 1880 – 1905.
Kebun Raya Tertua se-Asia Tenggara
Berdasarkan literasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kebun Raya Bogor masuk dalam kategori kebun raya tertua se-Asia Tenggara. Bahkan usia Kebun Raya Bogor ini sudah menginjak dua abad lebih tepatnya 204 tahun.
Menurut literasi LIPI itu, Kebun Raya Bogor yang memiliki luas 87 hektar itu muncul di era kepemimpinan Gubernur Jenderal Belanda, Godert Alexander Gerard Philip van der Capellen pada 18 Mei 1817.
Kebun Raya Bogor Salah Satu Pelopor Pengembangan Botani Indonesia
Sejarah mencatat, berawal dari Kebun Raya Bogor lah kemudian lahir beberapa institusi ilmu pengetahuan, seperti Bibliotheca Bogoriensis pada tahun 1842, Herbarium Bogoriense di tahun 1844, Kebun Raya Cibodas di tahun 1860, Laboratorium Treub di tahun 1884, dan Museum dan Laboratorium Zoologi di tahun 1894.
Setelah kemerdekaan, tahun 1949 ‘s Lands Plantentiun te Buitenzorg berganti nama menjadi Jawatan Penyelidikan Alam, kemudian menjadi Lembaga Pusat Penyelidikan Alam (LLPA) yang untuk pertama kalinya dikelola dan dipimpin oleh bangsa Indonesia, Prof. Ir. Kusnoto Setyodiwiryo.
Pada waktu itu LPPA punya 6 anak lembaga, yaitu Bibliotheca Bogoriensis, Hortus Botanicus Bogoriensis, Herbarium Bogoriensis, Treub Laboratorium, Musium Zoologicum Bogoriensis dan Laboratorium Penyelidikan Laut.
Koleksi Kebun Raya Bogor
Di usianya yang sudah menginjak 204 tahun, Kebun Raya Bogor yang telah berusia 204 tahun memiliki koleksi tumbuhan sekitar 222 suku (famili), 1.257 Marga, 3.423 jumlah spesies dan 13.684 spesimen, Kebun Raya Bogor telah menjadi tujuan wisata bagi banyak wisatawan Indonesia dan dunia.
Kepala Kantor Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Sukma Surya Kusumah mengatakan saat ini, Kebun Raya menopang lima fungsi terdiri dari konservasi, penelitian, pendidikan lingkungan, wisata dan jasa lingkungan tetap dijalankan dan saling bersinergi satu dengan lain.
Sukma menambahkan Setelah LIPI bertransformasi menjadi BRIN, terjadi penataan organisasi di dalamnya termasuk Kebun Raya Bogor.
Kata dia, saat ini lebih fokus melakukan riset dan konservasi tumbuhan, pengelolaan infrastruktur di Kebun Raya dilakukan oleh Kedeputian Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN.
Sedangkan fungsi eduwisata dikerjasamakan dengan pihak swasta dengan harapan dapat lebih mengoptimalkan potensi yang ada.
Terkait penyelenggaraan Glow atau wisata malam di Kebun Raya Bogor, tim peneliti flora dan fauna BRIN sudah mulai melakukan kajian untuk meminialisir dampak penyelenggaraan kegiatan tersebut.
“Kami sudah menginventarisasi jenis flora apa saja yang ada di area Glow untuk kemudian dimonitor," katanya.
Sementara, Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup IPB Hefni Effendi, menilai bahwa inovasi edukasi konservasi dalam program Glow dapat menjadi daya tarik kaum milenial untuk datang dan mengenal sejarah, budaya dan kekayaan koleksi Kebun Raya Bogor.
“Khusus untuk Kebun Raya Bogor sebaiknya tetap dilakukan kajian selama penyelenggaraan Glow, untuk mitigasinya sementara dapat dilakukan melalui studi referensi publikasi ilmiah atau jurnal-jurnal”, tutupnya
Baca Juga: Diam-diam Awasi Destinasi Wisata yang Uji Coba Dibuka, Ini Temuan Kepala Dispar Sleman
Berita Terkait
-
Dari Perawatan Kulit hingga Wellness, Korea Selatan Perkenalkan Wisata Kesehatan di Jakarta
-
Dua Bulan Pascakebakaran, Wisatawan Mulai Kembali Sambangi Desa Adat Sade
-
Menyusuri Makam Imam Al Bukhari di Uzbekistan, Ada Jejak Bung Karno di Soekarno Hall
-
Menpar Dorong Wisata Alam Tak Sekadar Jual Keindahan, tapi Juga Jaga Lingkungan
-
AI Mulai Masuk Ruang Kelas, Guru Harus Ajarkan Siswa Cara Cek Fakta
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Sudah Tunjukkan ID Card Tapi Tetap Diamankan, Jurnalis di Bogor Sempat Diminta Hapus Video
-
Bupati Bogor Sulap Horison Sayaga Jadi Destinasi Rekreasi
-
BRI Raih Empat Penghargaan di Top 20 Financial Institutions Award 2026
-
Temani Istri Beli Makan, Pria di Bogor Malah Bacok Bobotoh hingga Tewas
-
Pesan Menohok Bupati Bogor ke Pengelola Dapur MBG: Presiden yang Disalahkan jika Ada Kesalahan