SuaraBogor.id - Hari kesehatan jiwa sedunia dirayakan hari ini, 10 Oktober 2021. Perlu diketahui, ada banyak orang di dunia menderita gangguan mental namun mereka tidak menyadarinya.
Penyebabnya, mulai dari hubungan keluarga dan sosial yang beracun, kesulitan ekonomi, disposisi genetik, hingga faktor psikologis.
Salah satu gangguan mental yang banyak diderita adalah gangguan kepribadian, yang berdampak pada fungsi pribadi dan sosial seseorang.
Melnsir dari helathshots, inilah perbedaan antara gangguan mental dan kepribadian dari penjelasan dr.Samir Parikh.
Menurut dr. Parikh, gangguan mental terdiri dari gangguan seperti depresi dan kecemasan. Sedangkan gangguan kepribadian merupakan bagian dari gangguan mental.
Gejala yang harus diwaspadai adalah episode depresi berkepanjangan, lesu, perubahan suasana hati yang tiba-tiba, menarik diri dari masyarakat, gangguan hubungan, dan paranoia yang tidak masuk akal.
Ciri-ciri gangguan kepribadian Menurut dr. Parikh, orang dengan gangguan kepribadian mengalami perubahan perilaku dan pemikiran yang tiba-tiba.
Gangguan kepribadian itu akan berdampak pada fungsi diri dan interpersonalnya.
Seseorang akan menunjukkan ciri-ciri patologis seperti gangguan identitas diri, kurangnya empati, dan keintiman. Sifat-sifat ini dapat berdampak buruk pada fungsi sosial dan menciptakan keraguan diri dalam pikiran pasien.
Baca Juga: 4 Artis Bicara Kesehatan Mental di Hari Kesehatan Jiwa Sedunia
Ciri-ciri di atas merupakan ciri-ciri yang lazim di antara pasien gangguan kepribadian. Namun, setiap jenis gangguan kepribadian memiliki ciri khas yang terkait dengannya. Beberapa jenis gangguan kepribadian yang umum meliputi:
- Gangguan kepribadian paranoid: Termasuk kecurigaan umum bahwa setiap orang tidak menghormati atau menyakiti mereka
- Gangguan kepribadian skizoid: Pasien menghindari interaksi sosial dengan segala cara.
- Gangguan kepribadian antisosial: Orang tersebut mengembangkan pengabaian yang tinggi terhadap perasaan orang lain.
- Gangguan kepribadian ambang: Seseorang mungkin mengalami emosi yang tidak stabil dan perubahan suasana hati.
Berita Terkait
-
Capek Bersosialisai? Fenomena Social Battery Habis pada Anak Muda
-
Sepertiga Remaja Alami Masalah Kesehatan Mental, Skrining Tanpa Pendampingan Tak Berarti
-
Tak Sekadar Bersih-Bersih, Mandi Kini Jadi Ritual Relaksasi untuk Jaga Kesehatan Mental
-
Menjadi Dermaga Sebelum Menyelam: Kisah Komunitas Menemani Perjalanan Pulih
-
Kerja Secukupnya, Waras Seutuhnya: Membedah Tren Quiet Quitting ala Gen Z
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Bupati Bogor Tebar Bendera Merah Putih Hingga ke Pelosok Desa
-
Nekat Jual Tramadol Tanpa Izin di Bogor? Siap-siap Dipenjara 12 Tahun dan Denda Rp5 Miliar
-
Topang Sektor Riil, BRI Sambut Positif Kebijakan Penempatan Dana SAL Pemerintah
-
Ratusan Bangunan Liar di Cianjur Ditertibkan