Andi Ahmad S
Rabu, 14 Januari 2026 | 17:49 WIB
Pekerja tambang emas PT Antam Tbk beraktifitas di pertambangan emas Pongkor, Bogor, Jawa Barat, Jumat (30/11). [Suara.com/Muhaimin A Untung]
Baca 10 detik
  • Peristiwa dugaan kebocoran gas beracun di tambang emas wilayah Nanggung, Bogor, mengakibatkan ratusan orang terjebak. Sebanyak seratus dua puluh orang dilaporkan meninggal dunia dalam kejadian tragis yang terjadi hari ini.

  • Pihak kepolisian saat ini sedang mendalami kebenaran informasi mengenai jatuhnya korban jiwa di area tambang Antam. Petugas belum bisa masuk ke lokasi karena kondisi di dalam masih dipenuhi asap pekat.

  • Kapolsek Nanggung menegaskan bahwa jumlah korban dan penyebab pasti kejadian masih dalam proses penyelidikan intensif. Informasi yang beredar di pesan berantai media sosial hingga kini statusnya belum bisa dinyatakan akurat.

SuaraBogor.id - Sebuah kabar mengerikan kembali mengguncang jagat maya dan warga Kabupaten Bogor pada Rabu, 14 Januari 2026.

Wilayah Nanggung, yang dikenal sebagai lumbung emas sekaligus sarang aktivitas pertambangan, mendadak menjadi sorotan nasional.

Isu tentang tragedi kemanusiaan menyebar cepat lewat pesan berantai WhatsApp ratusan nyawa dikabarkan terancam akibat jebakan gas beracun.

Informasi awal yang beredar menyebutkan angka yang sangat fantastis dan memilukan. Ada sebanyak 700 orang yang terjebak racun pada gas Antam yang diduga bocor tersebut.

Narasi liar bahkan menyebutkan 120 orang di antaranya telah menjadi korban jiwa. Namun, di tengah kepanikan informasi ini, pihak kepolisian memberikan klarifikasi krusial mengenai siapa sebenarnya orang-orang yang berada di dalam lubang maut tersebut.

Kapolsek Nanggung, AKP Ucup Supriatna, yang terjun langsung ke lokasi kejadian untuk melakukan investigasi bersama tim perusahaan, memberikan pernyataan tegas. Ia meluruskan simpang siur mengenai status para korban.

Berdasarkan data awal dan lokasi kejadian, pihak berwenang memastikan bahwa mereka yang dikabarkan terjebak bukanlah pekerja resmi dari perusahaan pelat merah tersebut.

"Belum tentu gas beracun, belum tentu, kalau yang jelas bukan longsor bukan dan bukan karyawan antam," tambah dia.

Pernyataan ini menguatkan dugaan bahwa insiden tersebut menimpa para penambang emas tanpa izin (PETI) atau yang akrab disebut gurandil oleh warga Jawa Barat.

Baca Juga: Mencekam! Polisi Gagal Tembus Lokasi Gas Bocor PT Antam? Nasib Ratusan Orang Masih Misteri

Para gurandil ini seringkali nekat masuk ke area-area berbahaya atau lubang tikus yang tidak memiliki standar keselamatan kerja (K3), sehingga sangat rentan terpapar gas beracun bawah tanah tanpa peralatan memadai.

Meski telah memastikan status korban bukan karyawan, polisi belum bisa memverifikasi jumlah pasti korban yang viral di media sosial. Upaya petugas untuk masuk ke titik nol kejadian (TKP) terhalang oleh kondisi alam yang ekstrem dan berbahaya.

"Jadi kita juga di antam dengan antam kebetulan kita masih menunggu dari antam juga, kita ga bisa masuk ke dalam masih ada asap," kata AKP Ucup.

Asap tebal yang masih menyelimuti mulut lubang tambang menjadi indikator kuat adanya kebocoran gas atau zat kimia berbahaya. Situasi ini memaksa tim penyelamat untuk menahan diri agar tidak menambah jumlah korban jiwa dari pihak evakuator.

Tantangan lain yang dihadapi aparat adalah lokasi yang terisolir. Akses menuju titik lubang tambang yang diduga menjadi lokasi kejadian sangat sulit dijangkau dan memakan waktu. Hal ini membuat proses pelaporan dan validasi data menjadi lambat.

"Belum kita juga msh di antam ini sama antam. nunggu (laporan) dari pihak antamnya, ini memastikannya ke sana jauh juga," kata dia.

Load More