- Pameran ratusan golok kuno dari abad ke-9 hingga era Kesultanan Demak digelar di Bogor.
- Acara pameran pusaka dan sarasehan budaya ini berlangsung pada Sabtu, 14 Februari 2026.
- Pameran di Universitas Pakuan ini menyoroti nilai filosofis dan historis golok Nusantara.
SuaraBogor.id - Kota Bogor kembali menjadi pusat perhatian bagi pecinta budaya dan sejarah. Ratusan golok kuno dari berbagai era, mulai dari abad ke-9 tahun 800-900 hingga masa Kesultanan Demak sekitar tahun 1600-an, dipamerkan.
Pameran tersebut dalam kegiatan munggahan dalam tema 'pameran pusaka, dan sarasehan budaya' di Gedung Graha Pakuan Siliwangi, Universitas Pakuan, pada Sabtu 14 Februari 2026.
Pameran golok yang digelar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Universitas Pakuan ini merupakan hasil kerja sama apik dengan Pelestari Golok Pedang Sepuh Nusantara (GPSN).
Acara ini menghadirkan sekitar 300 koleksi golok dari berbagai periode sejarah Nusantara.
“Yang kami bawa ini kurang lebih 300-an koleksi. Ada yang dari masa 800–900, ada juga dari era Demak. Ini bukti bahwa golok memiliki sejarah panjang di Nusantara,” kata Perwakilan GPSN, Gatut Susanta.
Gatut Susanta menegaskan bahwa golok tidak hanya berfungsi sebagai senjata, tetapi juga memiliki nilai filosofis, historis, dan sosial yang sangat mendalam.
Menurutnya, pada masa lampau golok digunakan sebagai alat ketahanan pangan, kemudian berkembang menjadi alat pertahanan dan akhirnya menjadi pusaka budaya.
“Golok dulu menjadi alat ketahanan pangan, kemudian alat pertahanan, dan sekarang menjadi pusaka. Jangan sampai nanti anak cucu kita ingin melihat golok justru harus ke luar negeri,” katanya.
Rektor Universitas Pakuan, Prof. Didik Notosudjono, menyatakan pameran golok tersebut menjadi bagian dari komitmen kampus dalam mendukung pelestarian budaya melalui pendekatan akademik.
Baca Juga: Mantan Kades di Caringin Ditusuk Tetangga, Pelaku Diduga Rencanakan Pembunuhan
"Golok ini penting sekali dan harus kita perjuangkan. Kampus mendukung melalui penelitian, kajian sejarah, termasuk bagaimana tradisi ini bisa didigitalisasi,” ujar Didik.
Berita Terkait
-
Mantan Kades di Caringin Ditusuk Tetangga, Pelaku Diduga Rencanakan Pembunuhan
-
Ternyata Klapanunggal Bogor Punya Destinasi Healing & Spot Asyik untuk Keluarga
-
Daftar Lengkap 24 Pejabat Baru Kabupaten Bogor yang Dilantik
-
Lantik 24 Pejabat Baru, Bupati Bogor: Saya Pastikan Tidak Ada Jual Beli Jabatan
-
Cegah Banjir Besar Bojongkulur, Rudy Susmanto Puji Gerak Cepat Pemkot Bekasi
Terpopuler
- Di Tangan Suahasil, MBG Jadi Prioritas Subsidi Energi Dipangkas
- Luky Alfirman Jadi Wamenkeu usai Dicopot Purbaya, Pengamat Soroti Arah Kebijakan Suahasil
- Sehari Dijabat Suyudi Ario Seto, Polri Langsung Rombak 19 Kapolda: Ini Daftar Lengkapnya!
- Tan Cheng Hoe Gerah Lihat Pemain Malaysia Larut dalam Kekecewaan: Stop Nangis
- 7 Sepatu Jalan Paling Awet yang Solnya Empuk untuk Perjalanan Jauh
Pilihan
-
Kalapas Cibinong Dipecat dari ASN, Buntut Klaster Mewah dalam Penjara
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
Terkini
-
Usai Temuan Kamar Mewah, Ombudsman Garap Dugaan Pungli Rp150 Ribu per Minggu di Lapas Cibinong
-
Drama Penalti Pulangkan Thailand, Alun-Alun Bogor Meledak Sambut Indonesia Juara
-
PELOPOR BRI 2026 Jadi Wadah Penguatan Integritas dan Antikorupsi
-
Buntut Rumah Mewah di Lapas Cibinong, Kalapas Wisnu Hani Putranto Dipecat
-
Sapi Unik Berkaki Enam Asal Boyolali Sabet Juara Pertama APPSI Piala Presiden 2026 di Cibinong