- Warga RW 11 Kayumanis, Bogor, memasang spanduk penolakan pembangunan proyek PSEL di lingkungan pemukiman padat penduduk mereka.
- Masyarakat khawatir keberadaan fasilitas pengolahan sampah tersebut akan mencemari kualitas udara serta mengganggu kesehatan warga setempat.
- Warga mengancam akan melakukan demonstrasi besar jika Pemerintah Kota Bogor tetap melanjutkan rencana proyek tanpa mendengar aspirasi.
SuaraBogor.id - Gelombang penolakan terhadap rencana pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di wilayah Kayumanis, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, terus meluas.
Terbaru, warga RW 11 Sumurwangi Lamping secara terang-terangan menyatakan sikap tegas menolak wilayah mereka dijadikan lokasi pengolahan sampah berskala besar.
Aksi protes ini kini tidak hanya disampaikan secara lisan, namun sudah mulai terlihat masif melalui pemasangan berbagai spanduk bernada penolakan yang menghiasi jalan-jalan lingkungan dan area permukiman warga.
Warga merasa khawatir bahwa keberadaan proyek PSEL akan membawa dampak jangka panjang yang merugikan, terutama terkait kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Sartomi, salah seorang warga setempat, menjelaskan bahwa keresahan ini merupakan akumulasi dari kekhawatiran masyarakat terhadap masa depan lingkungan mereka.
“Kami menolak keras kampung kami dijadikan tempat pengolahan sampah. Warga di sini ingin lingkungan tetap aman dan sehat,” ujar Sartomi kepada wartawan, belum lama ini.
Menurut Sartomi, lokasi pemukiman yang padat penduduk dianggap tidak layak bersanding dengan fasilitas pengolahan sampah karena potensi polusi bau dan polusi udara yang mungkin ditimbulkan.
Ketegangan di tingkat akar rumput ini diprediksi akan semakin meningkat jika Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor tidak segera memberikan kejelasan. Sartomi menegaskan bahwa warga siap melakukan aksi massa atau demonstrasi sebagai langkah terakhir jika aspirasi mereka tidak didengar.
“Kalau suara warga tidak didengar, kami siap melakukan aksi demonstrasi. Ini menyangkut masa depan lingkungan dan kesehatan masyarakat,” tegasnya.
Penolakan dari RW 11 ini merupakan kelanjutan dari sikap serupa yang sebelumnya telah disuarakan oleh warga Munjul RW 06, Kelurahan Kayumanis. Secara garis besar, masyarakat di beberapa titik terdampak memiliki ketakutan yang sama, yaitu:
Baca Juga: Viral Narasi Bogor Pisah dari Jabar Akibat Polemik Parung Panjang, Bupati: Saya Pastikan Itu Hoaks!
- Pencemaran Udara: Emisi dari proses pengolahan sampah.
- Bau Tidak Sedap: Aroma dari penumpukan sampah sebelum diproses.
- Penurunan Kualitas Hidup: Dampak psikologis dan kenyamanan tempat tinggal.
- Nilai Properti: Kekhawatiran akan merosotnya harga tanah dan rumah di sekitar lokasi proyek.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi atau pernyataan tertulis dari pihak Pemerintah Kota Bogor maupun dinas terkait mengenai gelombang penolakan warga di wilayah Kayumanis tersebut.
Berita Terkait
-
Viral Narasi Bogor Pisah dari Jabar Akibat Polemik Parung Panjang, Bupati: Saya Pastikan Itu Hoaks!
-
Stadion Pakansari Terpilih Jadi Venue AFF, Bupati Rudy Susmanto Gerak Cepat Benahi Fasilitas
-
7 Fakta Proyek Rp5 Triliun Akademi Olahraga Terbesar Dunia di Rancabungur Bogor
-
Puskesmas Cisarua Disorot: Obat BPJS Sering Kosong, Gaya Kepemimpinan 'Raja Kecil' Mencuat
-
Sport Center Terbesar di Dunia Hadir di Rancabungur, Bupati: Lompatan Besar Pembangunan Bogor Barat
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
BRI Siap Jadikan Potensi Emas Indonesia Kekuatan Ekonomi Nasional
-
KPK Buka Suara, Tegaskan Tak Ada Operasi Tangkap Tangan di Kabupaten Bogor
-
Isu OTT Pejabat Pemkab Bogor Merebak, Sekda: Kami Masih Pantau Perkembangan
-
Tarif Parkir Tegar Beriman Cibinong Bakal Dievaluasi, Kadishub Bogor: Menyesuaikan Kebutuhan Warga
-
Tawarkan Promo Menarik, BRI KKB National Expo Ukir Rekor MURI di 131 Lokasi