Andi Ahmad S
Senin, 03 Agustus 2026 | 15:42 WIB
Warga sekitar saat menyebrang perlintasan sebidang RE Martadinata di Kota Bogor, Jawa Barat. [FOTO: Dziharul Islam Nusantara/SuaraBogor]
Baca 10 detik
  • Pemerintah Kota Bogor berencana menutup perlintasan kereta api tanpa palang pintu di bawah flyover R.E. Martadinata.
  • Warga dan pedagang mengkhawatirkan penutupan jalur tersebut dapat mengganggu mobilitas harian serta menurunkan pendapatan usaha kecil.
  • Masyarakat meminta pemerintah membangun jembatan penyeberangan orang sebagai solusi aman jika penutupan perlintasan tetap dilaksanakan.

SuaraBogor.id - Isu penutupan perlintasan kereta api di bawah flyover Jalan R.E. Martadinata mendadak bikin warga dan pedagang sekitar waswas. Akses darurat yang menghubungkan kawasan R.E. Martadinata dan Bubulak tersebut terancam bakal ditutup total oleh Pemkot Bogor.

Padahal, meski tergolong rawan karena tidak memiliki palang pintu maupun penjaga, jalur ini menjadi jalan pintas andalan masyarakat sehari-hari. Penutupan jalur ini dikhawatirkan bakal menyulitkan mobilitas warga serta mematikan rezeki para pedagang kecil di sekitarnya.

Sebagai informasi, Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim sebelumnya berencana menutup perlintasan tersebut dengan memasang pagar.

Skema itu disebut akan mengacu pada penanganan yang telah diterapkan di perlintasan Jalan Soleh Iskandar.

Salah satu warga sekitar Ari (36), mengaku tidak keberatan dengan pemasangan pagar, asalkan tetap ada akses penyeberangan.

Ia khawatir jika penutupan dilakukan tanpa solusi, aktivitas warga, terutama anak sekolah, akan terganggu.

“Soalnya dari arah seberang nggak ada warung, paling supermarket. Jadi kalau mau jajan mereka (Anak-anak sekolah dan ibu-ibu) harus nyebrang ke sini." kata Ari saat disambangi Suara.com di lokasi pada Minggu 2 Agustus 2026.

Ia berharap pemerintah membangun jembatan penyeberangan orang (JPO) untuk menjamin keamanan warga, terutama pelajar dan ibu-ibu.

“Ga ada pilihan selain harus muter, kalau ditutup mau lewat mana, apakah anak-anak mau muter jauh lewat atas (flyover) karena kan bahaya juga itu,” katanya.

Baca Juga: Pertamax Cuma Turun Rp300 Per-Liter, Pengendara Mengeluh: Kurang Berasa, Kemarin Naiknya Gede

“Paling nyari makan susah harus muter jauh, kasian anak sekolah, kalau mungkin ada JPO kan enak, pengennya sih ada JPO biar lebih aman aja, kalau ga ada JPO kan yang kasian itu anak sekolah,“ terang Ari.

Terpisah, Sukari (50), seorang pedagang, menilai penutupan perlintasan justru akan mempersulit warga karena harus memutar lewat flyover Martadinata.

Dia juga mempertanyakan adanya jaminan keamanan, khususnya bagi anak sekolah bila harus melintasi jalur flyover.

“Kalau ini ditutup dan anak sekolah harus muter lewat flyover ngeri banget, bakal ada pertanggungjawaban ga kirakira kalau ada apa-apa,” kata Sukari.

Menurutnya, akses jalan di sekitar flyover tidak ramah pejalan kaki karena tidak tersedia trotoar.

"Kalau pun nanti mau dipagar, ya saya harap ada alternatifnya. Saya pun kalau ke pasar nyebrangnya di sini," ujarnya.

Load More