Andi Ahmad S
Senin, 17 Agustus 2026 | 20:36 WIB
Fiki (28) penjual bendera di depan Perumahan Griya Kenari Mas, Desa Cileungsi Kidul, Kabupaten Bogor. [Dziharul Islam Nusantara/Suara.com].
Baca 10 detik
  • Perayaan HUT RI setiap bulan Agustus di berbagai daerah berhasil menggerakkan roda perekonomian UMKM akar rumput secara signifikan.
  • Pelaku usaha konveksi dan penyewaan alat acara di Bogor meraup omzet ratusan juta rupiah akibat lonjakan pesanan.
  • Pedagang bendera konvensional di pinggir jalan mengalami penurunan pendapatan drastis karena beralihnya konsumen ke platform belanja online.

SuaraBogor.id - Di balik gemuruh tepuk tangan peserta lomba makan kerupuk, riuh panggung hiburan, dan kibaran bendera merah putih di pelosok kampung, ada denyut ekonomi lokal yang berdegup kencang.

Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia setiap bulan Agustus bukan sekadar ritual seremonial tahunan, melainkan menjadi "musim panen" penting bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Dari industri konveksi, penyewaan perangkat acara, hingga pedagang musiman, perayaan 17 Agustus terbukti mampu menggerakkan roda perekonomian akar rumput secara signifikan.

Namun, dinamika pasar juga menampilkan dua sisi mata uang yang berbeda, lonjakan pesanan yang berkah di satu sisi, dan tantangan pergeseran era digital di sisi lain.

Musim Panen Konveksi dan Jasa Penyewaan

Bagi pelaku usaha produksi pakaian dan penyewaan alat acara, kemeriahan Agustusan menghadirkan permintaan yang melonjak tajam melebihi hari biasa.

Sektor Konveksi Agil, Desa Kembang Kuning mengalami lonjakan pemesanan custom jersey dan kaus hingga 3–4 kali lipat.

Nano (36) pemilik usaha penyewaan sound system asal Desa Pasir Angin, Cileungsi, Kabupaten Bogor. [Dziharul Islam Nusantara/Suara.com].

Dengan jangkauan konsumen dari tingkat RT, instansi pemerintah seperti Kecamatan Jatisampurna hingga Pemdes Temba Lae di NTB, hingga kalangan influencer, usaha ini membukukan omzet sekitar Rp150 juta dari 1.200 potong pakaian 60 purchase order hanya dalam periode pertengahan Juli hingga Agustus.

Kapasitas produksi bahkan overload hingga terpaksa menutup pre-order sebelum tanggal 17 Agustus.

Baca Juga: Nama Disebut di Pidato Kenegaraan, Realitas Hidup Susanah Tetap Bertumpu Pada Upah Rp700

Penyewaan Sound System Nano, Desa Pasir Angin mengatakan bahwa seluruh unit perangkat pengeras suara laku disewa untuk tiga titik acara berbeda di kawasan Cileungsi.

Kebutuhan daya berkisar dari 5.000 watt Rp1,5 juta/12 jam hingga 10.000 watt untuk acara besar. Dari tiga lokasi tersebut, terkumpul omzet sekitar Rp5 juta.

Penyewaan Tenda dan Panggung Salim, Desa Gandoang mengatakan keterbatasan stok panggung 6 set membuat permintaan terpaksa ada yang ditolak karena kewalahan.

Dengan tarif sewa panggung berkisar antara Rp1 juta ukuran kecil hingga Rp5–6 juta ukuran besar, omzet harian yang dicatat mencapai sekitar Rp7 juta.

Sisi Lain: Tekanan Digitalisasi pada Pedagang Musiman

Berbeda dengan penyedia jasa dan manufaktur custom, pedagang bendera di pinggir jalan justru merasakan tekanan akibat perubahan perilaku konsumen.

Load More