Andi Ahmad S
Rabu, 21 Oktober 2026 | 17:51 WIB
Kondisi terkini di RSPG Cisarua tempat siswa dirawat akibat keracunan MBG, Rabu (21/10/2026) [Andi Ahmad/Suara.com]
Baca 10 detik
  • Sejumlah siswa SMPN 2 Cisarua Bogor mengalami mual, muntah, dan diare usai menerima program Makan Bergizi Gratis pada 21 Oktober 2026.
  • SPPG menyerahkan sampel susu kemasan berkedaluwarsa Maret 2027 ke Labkesda untuk memastikan penyebab pasti gangguan kesehatan siswa tersebut.
  • Pihak SPPG menyampaikan permohonan maaf, berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait, dan berkomitmen mengevaluasi mutu distribusi makanan.

SuaraBogor.id - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bogor Cisarua Leuwimalang 01 menyampaikan permohonan maaf atas kejadian yang menimpa sejumlah siswa SMP Negeri 2 Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang mengalami gejala mual dan muntah setelah menerima makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Rabu (21/10/2026).

Ketua SPPG Bogor Cisarua Leuwimalang 01, Fima Aditiya Nugraha, menyampaikan keprihatinannya atas kejadian tersebut.

Ia berharap seluruh siswa yang terdampak segera pulih dan dapat kembali beraktivitas seperti sediakala.

"Kami menyampaikan keprihatinan dan permohonan maaf atas kejadian yang dialami para siswa SMP Negeri 2 Cisarua pada Rabu, 21 Oktober 2026," demikian pernyataan Fima.

Fima sapaan akrabnya menjelaskan, distribusi MBG tiba di SMPN 2 Cisarua sekitar pukul 08.03 WIB. Kemudian, pada pukul 08.30 WIB, pihaknya menerima laporan dari sekolah mengenai sejumlah siswa yang mengalami gejala mual dan muntah.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Kepala SPPG mendatangi sekolah sekitar pukul 08.40 WIB untuk berkoordinasi dengan pihak terkait.

Menjelang pukul 10.00 WIB, jumlah siswa yang mengalami gejala serupa dilaporkan bertambah. Salah satu siswa juga dilaporkan mengalami diare.

Dalam penelusuran awal, SPPG menerima laporan mengenai susu kemasan Diamond UHT Full Cream yang diduga mengalami kerusakan.

Menurut Fima, kemasan susu yang diperiksa mencantumkan tanggal kedaluwarsa Maret 2027. Namun, ia menegaskan bahwa kelayakan produk tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan tanggal kedaluwarsa yang tertera pada kemasan.

Baca Juga: 103 Siswa SMPN 2 Cisarua Diduga Keracunan MBG, Bupati Bogor Pastikan Biaya Pengobatan Ditanggung

Sampel terkait telah diserahkan untuk menjalani pemeriksaan laboratorium di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda).

"Kami masih menunggu hasil pemeriksaan untuk mengetahui kondisi produk dan kemungkinan keterkaitannya dengan kejadian ini," jelasnya.

Hingga hasil pemeriksaan laboratorium keluar, penyebab munculnya gejala yang dialami para siswa belum dapat dipastikan. Dugaan keterkaitan dengan susu kemasan tersebut juga masih memerlukan pembuktian lebih lanjut.

Fima mengatakan, pihak SPPG telah berkoordinasi dengan sekolah, puskesmas, rumah sakit, Babinsa, serta unsur pemerintah setempat untuk mendukung penanganan siswa yang mengalami gejala tersebut.

Ia juga menyatakan SPPG akan bersikap kooperatif selama proses pemeriksaan berlangsung. Selain itu, pihaknya berkomitmen mengevaluasi pengawasan mutu dan distribusi produk serta melakukan perbaikan sesuai hasil pemeriksaan dan arahan pihak berwenang.

"Keselamatan dan kesehatan para siswa merupakan prioritas utama kami," tegasnya.

Load More