Andi Ahmad S
Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:24 WIB
Momen Bupati Bogor Rudy Susmanto tinjau kebakaran TPA Galuga, Kabupaten Bogor beberapa waktu lalu. [Dziharul Islam Nusantara/SuaraBogor].
Baca 10 detik
  • Dinas Damkar Kabupaten Bogor mencatat 470 kejadian kebakaran lahan dan bangunan sepanjang Januari hingga September 2026.
  • Periode Juli hingga September 2026 mencatat 333 kejadian kebakaran, dengan sektor lahan terbuka mendominasi total keseluruhan.
  • Kondisi cuaca panas dan aktivitas manusia yang memicu vegetasi kering menjadi penyebab utama tingginya kebakaran lahan.

SuaraBogor.id - Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Bogor mencatat 470 kejadian kebakaran sepanjang Januari hingga September 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 333 kejadian terjadi selama Juli hingga September, dengan kebakaran lahan atau ruang terbuka mendominasi.

Kasi Pengendalian Operasi Pemadaman Damkar Kabupaten Bogor, Rico Wibisono, mengatakan jumlah kejadian kebakaran mengalami peningkatan pada pertengahan hingga akhir September 2026.

“Jumlah kejadian tertinggi tercatat pada September sebanyak 140 kejadian, disusul Juli sebanyak 99 kejadian dan Agustus sebanyak 94 kejadian,” kata Rico saat ditemui di kantornya, Kamis (22/10/2026).

Berdasarkan rekapitulasi Damkar Kabupaten Bogor yang dirangkum SuaraBogor.id, total 333 kejadian kebakaran selama Juli hingga September tersebut setara dengan sekitar 70,9 persen dari keseluruhan 470 kejadian sepanjang Januari hingga September 2026.

Sementara itu, berdasarkan objek yang terbakar, lahan atau ruang terbuka menjadi kategori terbanyak dengan 199 kejadian atau sekitar 42,3 persen dari total kebakaran.

Selanjutnya, kategori lain-lain mencatat 100 kejadian, sedangkan kebakaran rumah mencapai 93 kejadian.

Rico menjelaskan, tingginya angka kebakaran lahan dan ruang terbuka perlu menjadi perhatian dalam upaya mitigasi. Langkah tersebut antara lain dilakukan dengan mengidentifikasi wilayah rawan serta memastikan kesiapan penanganan kebakaran di lapangan.

“Besarnya jumlah kebakaran lahan atau ruang terbuka perlu jadi perhatian mitigasi, terutama untuk mengidentifikasi lokasi rawan, kondisi vegetasi, aktivitas manusia, ketersediaan sumber air, dan akses pemadaman,” ujar Rico.

Menurutnya, kondisi cuaca panas, curah hujan yang rendah, serta berkurangnya kelembapan vegetasi dapat meningkatkan kerentanan lahan terhadap kebakaran.

Baca Juga: Santri Bogor Dituntut Melek AI, Kemenag: Program Khusus Belum Ada

Material vegetasi yang mengering akan lebih mudah terbakar ketika terkena sumber api, baik akibat pembakaran sampah maupun aktivitas manusia lainnya.

“Material vegetasi yang kering lebih mudah terbakar jika ada sumber penyalaan, termasuk pembakaran sampah atau aktivitas manusia lainnya,” terang Rico.

Kontributor : Dziharul Islam Nusantara

Load More