Meski Muhammad Uci Soleh, dan rekan - rekannya telah kembali pulang ke Cianjur Selatan, namun para tentara KNIL masih mencarinya hingga ke Desa Bojonglarang, bahkan sejumlah beberapa rumah para pejuang itu, dirusak hingga ada juga dibakar.
Puluhan para pejuang, termasuk Muhammad Uci Soleh dan para bawahannya itu, terpaksa melarikan diri bersama istri hingga anak - anaknya kedalam hutan sekitar Kampung Cicurug yang berada di sebrang Sungai Cibuni.
"Saat itu saya, masih berusia sekitar 5 tahun, masih sangat jelas saat itu, para tentara Belanda sangat banyak bahkan diantara mereka dengan sengajak membakar rumah," kata Hindun Tuhfi (78) putri pertama dari pejuang Tuhfi Syamsudin.
Hindun mengisahkan, pada saat itu para pejuang hanya bersenjatakan golok yang berukuran panjang, senjat api laras pendek serta bambu runcing.
Baca Juga:Lagu Indonesia Raya: Sejarah, Pencipta, Sikap Khusus, Fakta Menarik
Pencarian KNIL terhadap Muhammad Uci Soleh dan para pejuang lainnya tidak hanya berhenti begitu saja, segala cara mereka lakukan, bahkan hingga membayar warga lokal dengan sepotong roti, untuk memberitahukan keberadaan para pejuang pemerdekaannya.
Karena pada saat itu keadaanya memang sangat, sebagian warga yang diintimidasi terpaksa harus menjadi mata-mata KNIL dan memberikan sejumlah informasi soal keberadaan para pejuang. Karena telah memberikan informasi pada tentara Belanda, seorang warga lokal itu pun terpaksa di eksekusi para pejuang.
Berkat berjuangannya, kini bangsa Indonesia terutama masyarakat Cianjur khsusnya Cianjur selatan dapat merasakan pengorbanan tenaga, keringat, harta hingga nyawa para pejuang.
Namun Ubed putri kedua pejuang Muhammad Uci Soleh, dan Hindun Tuhfi tidak mengetahui jelas perananan hingga pangkat terkahir para pejuang yang telah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
"Saat itu, yang saya ketahui bapak, memiliki atasan tiga orang. Namun yang paling sering disebutnya serta langsung dibawah perintah Kawilarang," ucap Ubed putri pejuang yang sudah sepuh tersebut.
Baca Juga:HUT ke-76 RI, Wali Kota Pontianak Harap Pandemi Covid-19 Segera Sirna
Muhammda Uci Soleh tutup usia pada 83 tahun, tepatnya meninggal pada 20 Agustus 2004, sedangkan pejuang Tuhfi Syamsudin meninggal dunia diusia 73 tahun, wafat di Cianjur pada tahun 1995.