Karenanya, baginya Novia adalah embun di tengah gurun pasir dan kepergiannya adalah kehilangan besar bagi pendidikan Indonesia.
“Kalau kita lihat alasan Anda ini sangat mulia ya kan ingin membangun relasi yang dialogis relasi yang setara gitu kan dengan anak murid suatu hari nanti dan terbukti kan ketika dia mengajar bimbel dia lakukan dengan apa namanya dialogis,” kata Satriwan.
Cita-cita mulia itu pun telah ia buktikan lewat tindakan tak cuma lewat kata-kata. Berdasarkan informasi, Novia Widyasari Rahayu adalah anak dari seorang Lurah, sementara ibunya adalah staf ahli hukum di kantor pemerintahan.
Menurut Satriwan, secara ekonomi, Novia tergolong mapan dan memiliki privilege untuk melanjutkan pendidikan ke jurusan yang lebih “menjanjikan”, tetapi nyatanya justru Novia memilih jurusan keguruan.
Baca Juga:Tertangkap dari Kacamata, Polisi Ungkap Jejak Pelarian hingga Bukti Video Lain Siskaeee
Padahal menurutnya, guru bukanlah profesi yang menjanjikan secara ekonomi mengingat apresiasi dan proteksi yang sangat minim dari pemerintah.
Apalagi saat ini, lulusan pendidikan keguruan tak bisa serta merta langsung bekerja menjadi aparatur sipil negara, begitu lulus mereka harus mengikuti Pendidikan Profesi Guru selama 1 tahun.
Setelah lulus, baru mereka bisa bekerja dengan status honorer yang upahnya tidak seberapa.
“Ananda ini saya rasa punya impian yang tidak merefleksikan kondisi keluarganya. Karena pengabdian itu dia tidak melihat bagaimana nanti dia bisa menjadi guru dengan kesejahteraan yang sangat, saya menyebutnya ‘honor guru honorer itu horor’ gitu ya,” kata Satriwan.
Satriwan berharap kasus kematian Novia bisa diungkap seterang-terangnya dan semua orang yang bertanggung jawab bisa mendapat ganjarannya tanpa pandang bulu.
Baca Juga:Terungkap, Kisah Bripka Randy Pacaran Gadis yang Bunuh Diri di Makam Ayah