- Meriyati Roeslani Hoegeng, istri mantan Kapolri Hoegeng Iman Santoso, wafat di usia 100 tahun pada Selasa.
- Kabar duka dikonfirmasi Komjen Chryshnanda Dwilaksana; jenazah disemayamkan di Depok dan dimakamkan di Bogor.
- Beliau dikenang sebagai pilar integritas dan kesederhanaan yang mendukung penuh idealisme suaminya selama hidup.
SuaraBogor.id - Kabar duka menyelimuti Bangsa Indonesia, khususnya keluarga besar Polri. Meriyati Roeslani Hoegeng, atau yang akrab disapa Eyang Meri, istri dari mantan Kapolri Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, wafat pada Selasa dalam usia genap 100 tahun.
Kepergian sosok yang telah melihat sejarah bangsa ini berkembang selama satu abad ini, meninggalkan duka mendalam sekaligus menjadi pengingat akan teladan integritas yang ia dan sang suami wariskan.
Kabar duka tersebut dikonfirmasi oleh Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Kalemdiklat) Polri, Komisaris Jenderal Polisi Chryshnanda Dwilaksana.
"Iya benar," katanya di Jakarta, Selasa. Komjen Chryshnanda menambahkan bahwa Meri Hoegeng meninggal dunia pada pukul 13.24 WIB karena sakit.
Baca Juga:5 Pemandangan Mengharukan di Pengajian Perdana Almarhum Al Ridwan, Putra Wakil Bupati Bogor
Jenazah akan disemayamkan di rumah duka di kawasan Mekarjaya, Depok, Jawa Barat.
"Semoga almarhumah kembali dalam keadaan khusnul khotimah, diampuni segala khilaf dan salahnya, diterima semua amal ibadahnya," ucapnya, mendoakan.
Di balik kelegendarisan Jenderal Hoegeng yang dikenal sebagai Kapolri paling jujur dan berintegritas tinggi, berdiri sosok wanita tangguh bernama Eyang Meri.
Meskipun namanya tak sepopuler sang suami di panggung publik, keberadaan istri Jenderal Hoegeng ini adalah pilar penting yang tak terpisahkan dari nilai-nilai kejujuran dan kesederhanaan yang dipegang teguh oleh Hoegeng.
Eyang Meri adalah gambaran nyata dari seorang pendamping hidup yang mendukung penuh idealisme suaminya, bahkan di tengah godaan dan tekanan kekuasaan.
Baca Juga:Takziah Tengah Malam, Bupati Bogor Beri Dukungan Moral dan Doa untuk Almarhum Putra Jaro Ade
Integritas Eyang Meri mungkin tidak terekspos dalam pidato atau keputusan publik, namun tercermin dari kehidupan pribadi yang sederhana, jauh dari kemewahan, dan fokus pada nilai-nilai keluarga.
Ia adalah saksi hidup dari bagaimana prinsip hidup yang kuat dapat dipertahankan, bahkan dalam posisi yang sangat berpotensi tergelincir.
Secara terpisah, Kepala Rumah Sakit Polri Brigjen Pol. dr. Prima Heru Yulihartono menginformasikan bahwa almarhumah Meri Hoegeng akan dimakamkan di Taman Pemakaman Giri Tama di Desa Tonjong, Kabupaten Bogor, pada Rabu (4/1).
"(Pemakaman) setelah zuhur," katanya.
Meri Hoegeng lahir pada 23 Juni 1925 di Yogyakarta, Hindia Belanda, dari pasangan dr. Mas Soemakno Martokoesoemo dan Jeanne Reyneke van Stuwe.
Ia menikah dengan Jenderal Hoegeng pada tahun 1946, sebuah tahun penting pasca-kemerdekaan Indonesia, dan dikaruniai tiga orang anak. [Antara].