- Kemenag Kabupaten Bogor belum mengadakan program khusus pelatihan AI bagi santri karena masih menunggu instruksi pusat.
- Raden Enjat Mujiat menyatakan pihak Kemenag berencana memperkuat sosialisasi penggunaan teknologi secara bijak melalui Forum Pondok Pesantren.
- Kabupaten Bogor mencatat 1.532 pesantren dengan lebih dari 100 ribu santri yang perlu dibekali literasi digital.
SuaraBogor.id - Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bogor belum memiliki program khusus pelatihan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) bagi santri. Pengembangan pembelajaran digital di lingkungan pesantren masih menunggu arahan dari pemerintah pusat.
Padahal, perkembangan teknologi digital yang semakin pesat menuntut santri memiliki literasi digital agar mampu mengikuti perubahan zaman tanpa mengabaikan nilai-nilai keagamaan dan norma yang berlaku.
Kepala Kemenag Kabupaten Bogor, Raden Enjat Mujiat, mengatakan pihaknya akan memperkuat sosialisasi mengenai pemanfaatan teknologi digital secara bijak kepada pengelola pesantren dan santri.
Namun, pembelajaran digital, termasuk pelatihan AI dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) pesantren, belum menjadi program khusus di tingkat kabupaten.
Baca Juga:Update Dugaan Keracunan MBG di SMPN 2 Cisarua Bogor: Satu Orang Masih Dirawat
"Sampai sekarang memang belum ada program di sana, tapi kalau memang urgent nanti kita akan buat satu program ke arah sana (program digital)," kata Enjat di Gedung Tegar Beriman, Kamis (22/10/2026), saat memperingati Hari Santri Nasional.
Menurut Enjat, perkembangan teknologi digital merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Karena itu, santri perlu mendapatkan pemahaman mengenai pemanfaatan teknologi, termasuk AI, agar dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Meski demikian, penerapan teknologi dalam kegiatan pendidikan tetap perlu mempertimbangkan kebijakan dan karakteristik masing-masing pesantren.
"Kita sekarang tidak bisa menghindari bahwa kita hidup di era digital. Mereka juga harus paham itu, tetapi kan kembali kepada pengelola pondok pesantren," ujarnya.
Enjat menjelaskan, sejumlah pesantren, terutama pesantren modern, telah menerapkan pembelajaran yang berkaitan dengan penguasaan teknologi digital.
Baca Juga:Saat Pesantren dan Ormas Islam Jadi Pahlawan Pendidikan di Pelosok Bogor
Sementara itu, pesantren yang masih mempertahankan pola pendidikan tradisional atau konvensional memiliki pendekatan tersendiri dalam menentukan penggunaan teknologi di lingkungan pendidikan mereka.
"Sudah ada di beberapa pesantren, itu programnya mereka diajarkan bagaimana menguasai digital dengan baik. Kemudian di pesantren yang besar-besar saja," kata Enjat.
"Tapi ketika masuk ke ponpes yang agak tradisional, konvensional, kan kita juga tidak bisa memaksakan. Ketika mereka punya paham beda, ya kita tidak bisa," lanjutnya.
Meski belum memiliki program pelatihan AI secara khusus, Kemenag Kabupaten Bogor menilai pendampingan bagi pesantren tetap diperlukan. Hal ini untuk memastikan penggunaan teknologi, termasuk AI dan media sosial, dilakukan secara bijak dan bertanggung jawab.
Enjat menegaskan, pemanfaatan teknologi di lingkungan pesantren perlu disertai pemahaman mengenai aturan dan batasan yang harus dipatuhi.
"Jangan sampai penggunaan AI di pondok itu tidak punya norma, dia bebas lepas. Harus penguatan terhadap hukum yang harus dipatuhi oleh mereka," tegasnya.