-
Proyek Tol Bogor–Serpong didanai swasta penuh (unsolicited) senilai Rp12,351 triliun, tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
-
Skema unsolicited ini memperkuat konektivitas JORR III dan menegaskan kepercayaan investor terhadap iklim investasi di Indonesia.
-
Model ini menjadi teladan bagi proyek infrastruktur masa depan karena efisien, cepat, dan membawa inovasi serta keahlian swasta.
SuaraBogor.id - Sebuah era baru konektivitas dan pertumbuhan ekonomi segera terwujud di jantung Jabodetabek. Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengungkapkan, pembangunan Jalan Tol Bogor–Serpong via Parung bukan sekadar infrastruktur tambahan, melainkan simpul strategis yang menghubungkan pusat pertumbuhan di Jabodetabek dan mengikat denyut kehidupan masyarakat.
Pernyataan ini disampaikan Dody dalam acara Penandatanganan Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol, Perjanjian Penjaminan, dan Perjanjian Regres Jalan Tol Bogor–Serpong via Parung di Jakarta, Jumat.
Proyek ini diharapkan menjadi katalisator penting bagi peningkatan mobilitas dan geliat ekonomi regional.
Pembangunan Tol Bogor–Serpong via Parung memiliki relevansi kuat dengan visi pembangunan nasional.
Sebagaimana dipahami, ini sejalan dengan Astacita Presiden RI yang dirumuskan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), yaitu trisula pembangunan ekonomi yang menargetkan ekonomi tumbuh 8 persen, kemiskinan turun 0 persen, dan menyiapkan kesehatan manusia yang unggul.
Menteri Dody menjelaskan bahwa Kementerian PU menginternalisasi Astacita ini dan menerjemahkannya ke dalam narasi tersendiri, yang dikenal sebagai trisula pembangunan infrastruktur atau "PU 608." Konsep PU 608 sendiri meliputi:
- Rasio Modal-Output Inkremental (ICOR) kurang dari 6.
- Pengentasan Kemiskinan menuju 0 persen.
- Pendorong Pertumbuhan 8 persen per tahun.
"Tiga nilai utama yakni pertumbuhan, keadilan sosial dan ekonomi umum menjadi roh dari setiap bendungan yang kita bangun, setiap jaringan irigasi yang kita perluas hingga jalan-jalan tol yang akan kita resmikan," tegas Dody, dilansir dari Antara.
Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Wilan Oktavian, menambahkan bahwa proyek Tol Bogor–Serpong via Parung merupakan prakarsa badan usaha atau unsolicited yang telah melalui tahapan proses yang cukup panjang.
Proses panjang ini dimulai dengan pengadaan pada tahun 2022, diikuti evaluasi teknis, finansial, dan legal, hingga akhirnya penetapan pemenang pada Juli 2024. Konsorsium pemenang kemudian membentuk badan usaha Jalan Tol, yaitu PT Bogor Serpong Infra Selaras.
Baca Juga: Misteri di Balik Tol Bogor Serpong, Mengapa Investor Rela Tanam Rp12,3 Triliun Tanpa Bebani APBN?
Secara teknis, jalan tol ini memiliki panjang total 32,03 km, dengan 27,83 km berada di Provinsi Jawa Barat dan 4,2 km di Provinsi Banten. Proyek ini dibagi menjadi empat seksi vital:
- Seksi 1: Junction Salabenda sampai Simpang Susun-Pondok Udik sepanjang 3,97 km.
- Seksi 2: Simpang Susun-Pondok Udik sampai Simpang Susun-Putat Nutug sepanjang 9,27 km.
- Seksi 3: Simpang Susun-Putat Nutug sampai Simpang Susun Rumpin sepanjang 8,23 km.
- Seksi 4: Simpang Susun-Rumpin sampai Junction Serpong sepanjang 10,56 km.
Dari sisi finansial, total investasi proyek ini mencapai Rp12,351 triliun, mencakup seluruh biaya mulai dari perencanaan teknis, pengadaan tanah, konstruksi, hingga pengoperasian.
"Insya Allah tanpa menggunakan APBN, skema kerja sama pemerintah badan usaha adalah menggunakan metode bangun guna serah yang telah banyak dilaksanakan di dalam pembangunan jalan tol di Indonesia," jelas Wilan.
Jalan Tol Bogor–Serpong via Parung adalah bagian integral dari Jaringan Jalan Tol Jakarta Outer Ring Road 3 (JORR 3), sebuah proyek ambisius yang bertujuan mengurai kemacetan dan mengoptimalkan distribusi barang serta jasa di wilayah metropolitan Jakarta.
Proyek ini akan terhubung dengan jalan tol yang sudah eksis di sebelah barat, yaitu Tol Serpong–Balaraja (Serbaraja), serta menyambung dengan Tol Bogor Outer Ring Road (BORR) dan Tol Depok–Antasari (Desari). Ke depan, konektivitas ini akan diperluas hingga Tol Sentul Selatan–Karawang Barat.
"Ini akan mempercepat distribusi pangan, memudahkan akses air bersih, mendukung pasokan energi, menurunkan biaya logistik, hingga mempercepat arus barang antarkawasan," kata Wilan.
Berita Terkait
-
Misteri di Balik Tol Bogor Serpong, Mengapa Investor Rela Tanam Rp12,3 Triliun Tanpa Bebani APBN?
-
Guncangan M 2,3 di Bogor Pagi Kemarin, Ini Penjelasan BMKG tentang Kekuatan Sebenarnya
-
Inilah Jam-Jam Penentu One Way di Puncak 5 Oktober 2025, Jangan Sampai Rencana Liburan Anda Hancur!
-
Puncak Membara! Warga Korban PHK Siap Gugat Presiden, Janji Menteri Hanif Faisol Cuma Angin Surga?
-
Mengapa Truk Box Itu Gagal Menanjak? Misteri Penyebab Rem Blong di Tanjakan Ciampea Renggut Nyawa
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 5 Cat Rambut yang Tahan Lama untuk Tutupi Uban, Harga Mulai Rp17 Ribuan
Pilihan
-
Babak Pertama: Beckham Putra Bawa Persib Bandung Unggul atas Persija
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
-
Kriminalisasi Rasa Tersinggung: Mengadili Komedi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
Terkini
-
4 Rekomendasi Pompa Angin Injak Terbaik Penyelamat Ban Kempes
-
3 Wisata Alam di Cibinong untuk Healing Singkat Akhir Pekan
-
Jumat Kelabu di Bogor Selatan, Longsor Bonggol Bambu Timbun 2 Balita
-
Damkar Ciomas Bawa Mobil Tempur Cuma Buat Isi Kolam Renang Bocah yang Nangis Kejer
-
Damkar Bogor Gandeng Media Jadi Jembatan Edukasi Tanggap Bencana dan Bahaya Kebakaran