Andi Ahmad S
Kamis, 05 Februari 2026 | 20:27 WIB
Presiden Director Brexa Holdings Jepang, Yuya Ono [Kanan] di Bogor [Andi Ahmad S/Suara.com]
Baca 10 detik
  • PT Brexa Holdings Jepang memilih transparansi keuangan sebagai strategi berbeda dalam penyiapan 4.000 PMI ditargetkan tahun 2026.
  • Brexa menyediakan pelatihan intensif 6 hingga 12 bulan, termasuk kurikulum adaptasi budaya dan anti-judi daring bagi calon pekerja.
  • Permintaan tenaga kerja Indonesia saat ini berfokus pada sektor otomotif perakitan, industri makanan, dan sektor konstruksi di Jepang.

SuaraBogor.id - Isu imigran ilegal dan tenaga kerja asing kurang berkompeten kerap menjadi sorotan dalam hubungan bilateral antarnegara, tak terkecuali Jepang.

Namun, di tengah kondisi yang sensitif ini, PT Brexa Holdings Jepang, sebuah lembaga yang berfokus pada penyiapan Pekerja Migran Indonesia (PMI) profesional, mengambil posisi yang berbeda tampil transparan.

Strategi ini, menurut Presiden Director Brexa Holdings Jepang, Yuya Ono, justru menjadi nilai tambah di mata pemerintah Jepang.

Yuya Ono mengatakan di Brexa Wisma Hafid di Cileungsi, Kabupaten Bogor, bahwa fasilitas pelatihan berkapasitas 250 siswa dengan target 1.000 siswa di masa depan.

"Dengan kondisi saat ini menurut kami ini kesempatan, karena kami transparasi dari segi keuangan pendidikan ini sangat terbuka. Mungkin seperti kami yang akan dipilih oleh pemerintah Jepang malah. Dari pihak kami ini adalah kesempatan hal yang negatif," ujar Yuya Ono kepada wartawan, Kamis 5 Februari 2026.

Brexa Holdings Jepang menargetkan pemberangkatan sekitar 4.000 PMI ke Jepang tahun ini, setelah sukses memberangkatkan 3.500 PMI pada 2025.

Untuk mencapai hal tersebut, Brexa memiliki 9 training center lain di berbagai daerah yang dijadikan pendidikan awal, sebelum dipindahkan ke Bogor untuk pelatihan lanjutan dengan skill tinggi.

Durasi pelatihan bervariasi antara 6 hingga 12 bulan, disesuaikan dengan jenis pekerjaan di Jepang.

Yuya Ono secara terbuka mengakui adanya tantangan terkait etika kerja PMI di Jepang. Untuk mengatasinya, Brexa memiliki pendekatan komprehensif, termasuk keberadaan staf di Jepang Brexa Cross Border yang menangani masalah dan merumuskan kurikulum pendidikan lintas budaya.

Baca Juga: Lebih dari Sekadar Iftar: Berbuka di Bigland Bogor Hotel, Bawa Pulang Kesempatan iPhone 17 Pro

"Kita beda budaya Jepang dan Indonesia. Tapi yang sekarang lagi marak sosial media, di mana mereka yang memotret atau mau buat video di dalam Pabrik tidak boleh, nah hal seperti itu yang masukkan ke dalam pembelajaran lintas budaya," jelas Ono.

Brexa menerima calon pekerja migran mulai dari usia 18 hingga 20 tahun, dan juga terbuka untuk usia di atas itu, menyesuaikan dengan kebutuhan klien di Jepang.

Hingga kini, Brexa telah berkolaborasi dengan lebih dari 170 sekolah di Indonesia, menunjukkan jangkauan luas dalam penyiapan tenaga kerja Indonesia.

Yuya Ono menyebutkan bahwa bidang pekerjaan yang banyak dibutuhkan di Jepang saat ini adalah sektor otomotif terutama perakitan, industri makanan, dan sektor konstruksi yang permintaannya meningkat tajam.

"Ini adalah peluang karir di Jepang yang menarik bagi pencari kerja Indonesia dengan keahlian di bidang tersebut," tukasnya.

Load More