10 RS Tolak Warga Depok Hingga Tewas Ternyata RS Resmi Rujukan COVID-19

CISDI pun menerima laporan banyak rumah sakit menolak dan tidak bisa menampung pasien COVID-19.

Pebriansyah Ariefana
Senin, 18 Januari 2021 | 11:06 WIB
10 RS Tolak Warga Depok Hingga Tewas Ternyata RS Resmi Rujukan COVID-19
ILUSTRASI petugas medis. [Suara.com/Angga Budhiyanto]

SuaraBogor.id - Sebanyak 10 rumah sakit tolak warga Depok hingga meninggal dunia di taksi online, ternyata rumah sakit resmi rujukan COVID-19. Pasien COVID-19 ditolak 10 rumah sakit itu dalam keadaan sekarat hingga meninggal.

Penolakan itu terjadi 3 Januari lalu. Kasus mengenaskan itu didapat dari Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives atau CISDI. Dalam rilis CISDI itu disebutkan berdasarkan data "laporan COVID-19".

Dalam laporan CSDI, mereka menerima berbagai laporan sulitnya pasien COVID-19 menerima akses.

"Salah seorang keluarga pasien di Depok melaporkan, pada 3 Januari 2021, anggota keluarganya meninggal di taksi daring setelah ditolak di 10 rumah sakit rujukan Covid-19." kata Tri Maharani, relawan tim BantuWargaLaporCovid19 dalam rilis CISDI.

Baca Juga:Data Lengkap Pasien Covid-19 di Pandeglang Bocor, Begini Kata Dinkes

CISDI pun menerima laporan banyak rumah sakit menolak dan tidak bisa menampung pasien COVID-19. Ini yang mengakibatkan lonjakan kasus yang tidak terkendali menyebabkan RS tak mampu menampung pasien.

"Dari akhir Des @LaporCovid mendapatkan 23 laporan kasus pasien yang ditolak RS karena penuh, pasien yang meninggal di perjalanan, dan meninggal di rumah," kata Tri Maharani.

Tri Maharani menekankan bahwa situasi layanan kesehatan sudah genting.

“Tanda-tanda kolaps layanan kesehatan sebenarnya sudah terindikasi sejak bulan September 2020, yang kemudian mereda pada periode pemberlakuan PSBB di Jakarta. Menjelang pertengahan November 2020, saat pelaksanaan pilkada serentak dan libur Nataru, memperburuk ketidakmampuan RS menampung pasien,” dalam siaran persnya.

Di lapangan, LaporCovid19 menemukan bahwa sistem rujuk antar fasilitas kesehatan tidak berjalan dengan baik, sistem informasi kapasitas Rumah Sakit tidak berfungsi. Banyak warga yang memerlukan penanganan kedaruratan kesehatan akibat terinfeksi Covid-19 tidak mengetahui harus ke mana.

Baca Juga:Prakiraan Cuaca BMKG 18 Januari: Depok Hujan Ringan, Kota Bogor Hujan Petir

Kondisi ini diperparah dengan permasalahan sistem kesehatan yang belum kunjung diatasi, di antaranya keterbatasan kapasitas tempat tidur, minimnya perlindungan tenaga kesehatan dan tidak tersedianya sistem informasi kesehatan yang diperbarui secara real-time.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini