"Untuk makanan yang disantap pengungsi itu bukan dari dapur umum," kata AKBP Harviadhi.
Makanan yang disantap oleh pengungsi, kata Harvi, yakni mi ayam, bukan mi instan, yang dikemas dalam cup. Atas insiden keracunan ini, polisi masih melakukan proses lidik.
Pengungsi yang keracunan massal tersebut, kata Harvi mengalami mual, muntah, dan diare mulai pukul 22.00 WIB hingga pukul 24.00 WIB.
Warga mengeluhkan berkali-kali diare dan sakit perut yang melilit.
Baca Juga:Alhamdulillah! Seluruh Korban Longsor Ngetos Nganjuk Sudah Ditemukan
"Sakit perut melilit, mual, muntah dan diare sering lari ke kamar mandi," papar Harvi.
Harvi menambahkan pengungsi menyantap mi ayam pada Kamis sore (18/2/2021) sekitar pukul 15.30 WIB. Pengungsi yang menyantap mi ayam mengalami gejala keracunan mulai sekitar pukul 22.00 WIB hingga pukul 24.00 WIB.
"Kalau menyantap mie ayam sore sekitar pukul 15.30 WIB dan baru merasakan gejala keracunan antara sekitar pukul 22.90 WIB hingga pukul 24.00 WIB," kata Harvi.
Polisi telah mengambil sampel mi ayam yang telah dimakan pengungsi untuk proses lidik.
Baca Juga:Keracunan Massal Korban Longsor Nganjuk, Perut Melilit Usai Makan Mi Ayam