Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menceritakan seperti ini dalam rangka untuk menyampaikan realita. Artinya tidak bisa dijadikan sebagai alasan pembenar. Sehingga ketika orang mendengarkan hadits ini dia tidak boleh mengatakan: “Kalau bgitu saya boleh berdusta karena ini adalah akhir zaman.” Tentu pemahaman seperti ini adalah pemahaman yang salah.
Yang benar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan realita akhir zaman. Dan kita berusaha jangan sampai ikut-ikutan seperti itu. Karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan pesan di akhir hadits:
“Janganlah kalian ikut-ikutan seperti mereka.”
Kemudian jama’ah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, kedustaan yang paling puncak adalah kedustaan atas nama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bentuknya adalah membuat hadits palsu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda dalam hadits dari sahabat Al-Mughirah bin Syu’bah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
Baca Juga:Apa Doa di Antara Dua Khutbah Jumat? Ini Jawaban Buya Yahya
“Berdusta atas namaku statusnya tidak sebagaimana berdusta atas nama manusia biasa.”
“Siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka siapkan tempatnya di neraka.” (HR. Bukhari)
Sehingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan ancaman yang sangat keras bagi orang yang berdusta atas nama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Jama’ah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga melarang kita untuk menyebarkan hadits yang itu merupakan hadits dusta. Hadits dhaif yang tidak pernah beliau sabdakan, atau hadits palsu yang tidak pernah beliau ucapkan, maka terlarang bagi kita untuk menyebarkannya. Disebutkan dalam hadits riwayat Muslim dalam muqoddimah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
“Barangsiapa yang menyampaikan sebuah hadits dariku, padahal dia punya persangkaan hadits itu adalah hadits palsu, maka berarti dia termasuk salah satu diantara pendusta.” (HR. Muslim)