- Siswa kelas XI SMA Kemala Bhayangkara Gunungsindur meluncurkan dua buku karya mereka pada 27 September 2026.
- Pembuatan buku tersebut dikerjakan selama sembilan bulan melalui proses pembelajaran, kurasi, dan penyuntingan profesional.
- Proyek literasi sekolah ini bertujuan membangun budaya menulis serta menekankan pentingnya orisinalitas di tengah perkembangan kecerdasan buatan.
SuaraBogor.id - Bagi sebagian pelajar, tugas sekolah mungkin hanya berakhir sebagai angka di lembar penilaian. Namun, berbeda dengan siswa kelas XI SMA Kemala Bhayangkara, Gunungsindur, Kabupaten Bogor.
Tugas-tugas yang mereka kerjakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris selama sekitar sembilan bulan berkembang menjadi dua buku yang diluncurkan dalam momentum peringatan Bulan Bahasa, Minggu (27/9/2026).
Dua buku tersebut masing-masing berjudul Echoes of Heritage dan Suara Dari Masa Depan. Keduanya merupakan hasil karya siswa kelas XI yang dikembangkan dari tugas pembelajaran dan kemudian melalui proses kurasi serta penyuntingan.
Echoes of Heritage berisi kumpulan kolom dan opini hasil kolaborasi pembelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Baca Juga:65 Lapak PKL Jalan Nyi Raja Permas Dibongkar
Para siswa menuangkan pengalaman mereka saat berinteraksi dengan budaya lokal, kemudian mengolahnya menjadi tulisan yang berisi refleksi dan pemikiran kritis.
Sementara Suara Dari Masa Depan merupakan antologi karya sastra yang memuat beragam imajinasi dan narasi puitis karya para siswa.
Kepala SMA Kemala Bhayangkara, Hendri Adi, mengatakan proses menghasilkan buku tersebut menjadi pengalaman penting bagi para siswa, terutama untuk membangun keberanian dalam menuangkan gagasan melalui tulisan.
“Halangan utama orang untuk merefleksikan apa yang dipikirkan dalam bentuk tulisan adalah memulai. Anak-anak ini berhasil melampaui itu dan hari ini kami disajikan dua buku karya pertama mereka,” ujar Hendri.
Menurutnya, program tersebut tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akademik, tetapi juga membangun budaya literasi di lingkungan sekolah.
Baca Juga:Pohon Flamboyan 40 Meter Tumbang Timpa Pedagang dan Pembeli di Bogor
“Tidak hanya sekadar mempersiapkan dan menuangkan ide, tetapi bagaimana ide itu menjadi karya,” tambahnya.
Dikerjakan Selama Sembilan Bulan
Hendri menjelaskan, proses pembuatan kedua buku tersebut tidak berlangsung secara instan. Proyek dimulai melalui kick-off pada Februari 2026 dan berlangsung sekitar sembilan bulan.
Setelah naskah para siswa terkumpul, karya tersebut masih harus melalui proses kurasi dan penyuntingan. Tahapan tersebut melibatkan penulis dan editor profesional sebelum akhirnya diterbitkan dalam bentuk buku.
Proses tersebut sekaligus memberikan pengalaman kepada siswa mengenai tahapan dalam menghasilkan sebuah karya, mulai dari menuangkan gagasan, melakukan revisi hingga menghasilkan tulisan yang siap dibaca masyarakat.
Tekankan Orisinalitas di Tengah Perkembangan AI