SuaraBogor.id - Wali Kota Bogor Bima Arya klaim dua kunci ini yakni kolaborasi dan konsistensi, bisa menjadikan Kota Bogor terbebas atau dinilai baik dalam mengatasi sampah selama ini.
"Kalau kita belajar dari best practice success story dari seluruh kota-kota yang berhasil mengatasi masalah sampah, pertama adalah kolaborasi dan konsistensi," ujar Bima Arya dalam keterangan yang diterima Suarabogor.id, Jumat (26/2/2021).
Bima Arya mengatakan, bagi kota-kota yang sulit berkolaborasi dan tidak konsisten hasilnya pun rata-rata. Sementara jika melihat semua yang piawai 'menjahit', membangun jejaring, berkolaborasi bersama-sama dan terus menjaga ritmenya, konsistennya, hasil tidak akan pernah mengkhianati proses.
"Sejak 7 tahun terakhir dua hal itu yang kita kuatkan bersama-sama, karena Pemkot tidak bisa sendiri, ada keterbatasan logistik, SDM terbatas dan pengetahuan juga terbatas. Kadang-kadang konsistensi melemah ketika kepala dinasnya tidak semangat dibandingkan kepala dinas sebelumnya atau sebaliknya," jelasnya.
Bima Arya menerangkan, konsistensi itu bisa dijaga dengan kolaborasi. Kalau Pemkot turun, diingatkan komunitas, media dan akademisi. Dua hal itu yang terus Pemkot Bogor evaluasi.
Menurutnya, sejak menyelenggarakan Bogor Ku Bersih, mendorong biopori dan berbagai kebijakan yang awalnya kontroversi tapi pada perjalanannya manfaat dan maslahatnya ada, yakni kebijakan pengurangan kantong plastik yang terlihat hasilnya.
"Beberapa tahun lalu Pemkot Bogor mendapatkan sertifikat Adipura karena berhasil mengurangi sampah. Dan kemarin DLH mendapatkan penghargaan yang membanggakan, Kota Bogor dari 13 kota berhasil mengurangi timbunan sampah 16 persen setiap harinya. Apresiasi saya untuk DLH dan semua pihak," jelasnya.
Ia menambahkan, di situasi pandemi ini harus terus berkreasi mencari celah, mensejahterakan warga dan mencari peluang ekonomi. Sebab, pihaknya ingin masalah menjadi berkah, pengelolaan sampah bukan hanya membuat kota bersih tapi ada nilai ekonomi atau benefit, sehingga sampah bisa jadi bahan baku ekonomi.
"Saya Apresiasi ke DLH dengan maggotnya bisa memberikan dampak ekonomi, ada tambahan penghasilan. Tinggal balik lagi kolaborasi dan konsistensi, memastikan dari hulu ke hilir. Sekarang kan masih terbatas kalau terus konsisten dan kolaborasi di ujungnya akan indah," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Kurangi Ketergantungan Plastik, BRIN Kembangkan Potensi Kemasan dari Sumber Daya Laut
-
Kemendagri Paraf DIM RUU Adminduk, 1.027 DIM Jadi Dasar Penyempurnaan
-
Generasi Muda dan Gagasan Circular Campus, Saat Kampus Mulai Memikirkan Masa Depan Sampah
-
Jangan Buang Minyak Jelantah, Bisa Dijual dan Jadi Bahan Baku Bioavtur
-
Jakarta Targetkan Defisit Sampah pada 2029
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Dari Cisarua ke Dramaga, Dugaan Keracunan MBG di Bogor Belum Temukan Titik Terang
-
20 Tahun Mengabdi, Irsan Jadi Calon Tunggal Ketua BPC Gapensi Kabupaten Bogor
-
Dini Hari Kelam di Cigudeg, Motor Trail Honda CRF Milik Warga Wargajaya Raib
-
Siap Sambut Pengunjung Mulai 2 November, Eiger Nature Wadahi Konservasi dan Pemberdayaan Warga Bogor
-
Dugaan Keracunan MBG di Dramaga, Dua SMP Terapkan PJJ Selama Dua Hari