Seorang penambang emas ilegal (gurandil) bernama Akim (38) terjebak di dalam "lubang tikus" di area PT Antam Pongkor sejak Selasa (13/1/2026). Insiden ini dipicu oleh munculnya asap maut di dalam lubang tambang yang mengakibatkan proses evakuasi oleh tim gabungan terus berjalan hingga saat ini.
Keputusan Akim untuk melakukan pekerjaan berisiko tinggi tersebut murni didasari oleh desakan ekonomi. Meskipun sempat ragu karena cuaca buruk dan kekhawatiran istrinya, Akim merasa tidak memiliki pilihan lain demi mencukupi kebutuhan makan istri dan kelima anaknya karena sulitnya mencari lapangan pekerjaan yang layak.
Akim baru sekitar tiga bulan menjalani peran sebagai "pemahat" (pengambil emas langsung di lubang), yang merupakan posisi jauh lebih berbahaya dibandingkan pekerjaan sebelumnya sebagai "tukang panggul" bongkahan batu.
SuaraBogor.id - Sore itu, Senin (19/1/2026), di sebuah teras rumah ukuran tiga meter di Kampung Anyar, RT02/06, Desa Urug, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, pecah tangis seorang istri dari korban penambang emas ilegal di area PT Antam.
Eni Nurhayati, istri dari Akim (38), seorang gurandil atau penambang emas ilegal, tak kuasa lagi membendung air matanya.
Suaranya tersedu-sedu, bercerita tentang Akim yang hingga kini masih terjebak di lubang tikus pasca peristiwa asap di area PT Antam Pongkor pada Selasa (13/1/2026).
Kondisi Desa Urug yang lembap usai diguyur hujan, seolah turut mewakili perasaan Eni. Dingin dan basah, seperti perasaannya yang masih menggantung antara harapan dan keputusasaan, menunggu kabar sang suami, antara hidup dan mati.
Dengan baju hitam dan celana abu-abu, sambil sesekali mengusap wajahnya dengan handuk ungu, Eni mencoba mengumpulkan kekuatan untuk bercerita.
Ia adalah ibu dari seorang anak laki-laki berusia 1,5 tahun, yang kini menggantungkan hidupnya pada sebuah kepastian yang tak kunjung datang.
Tangisan Eni pecah tak terbendung saat ditanya tentang komunikasi terakhirnya dengan Akim sebelum sang suami berangkat ke lokasi penambangan emas ilegal.
Suasana di teras rumah yang setengah dikeramik dan setengahnya belum itu hening, ikut merasakan kedalaman duka Eni.
Pada hari Minggu (11/1/2026), dua hari sebelum insiden asap maut, Eni sempat berkomunikasi dengan Akim.
Cuaca saat itu tidak mendukung, hujan kadang turun, kadang tidak, membuat hati Eni dihantui kecemasan.
Baca Juga: Mimpi Menikah Habis Lebaran Kandas, Isep Pulang Tak Bernyawa dari 'Lubang Tikus' Pongkor
Ia tak melarang suaminya berangkat, namun berusaha memberikan pemahaman, menyuarakan firasat seorang istri akan bahaya di tengah cuaca yang tak menentu.
"Mau menuruti (kata istri) mau tidak karena cuacanya seperti ini (hujan)," ucap Eni, tersedu-sedu, mengingat kata-kata yang selalu terngiang.
Namun, setelah mendengar nasehat istrinya, Akim sempat melamun. Sebuah lamunan yang mencerminkan dilema pahit yang dihadapi banyak warga di sana, jika hanya diam di rumah, tak ada pemasukan, tak ada uang untuk makan dan kebutuhan sehari-hari.
"Terus dia melamun katanya masa diam saja kan tidak bekerja," ujar Eni, mengusap air matanya.
Eni mencoba mewakili perasaan suaminya. Jika tidak bekerja, bagaimana mereka bisa makan. Di tengah sulitnya mencari pekerjaan, menjadi gurandil seolah menjadi pilihan terakhir.
Pekerjaan yang tak membutuhkan ijazah, hanya butuh fisik kuat untuk membawa bongkahan bahan yang diduga mengandung emas.
Tag
Berita Terkait
-
Mimpi Menikah Habis Lebaran Kandas, Isep Pulang Tak Bernyawa dari 'Lubang Tikus' Pongkor
-
Duka Makin Dalam! Korban Tewas Tragedi Pongkor Bogor Bertambah Jadi 5 Orang, Ini Identitasnya
-
PT Antam Tegaskan Korban Tewas Bukan Karyawan, Melainkan Penambang Tanpa Izin
-
Sempat Simpang Siur, PT Antam Akhirnya Buka Suara Soal 3 Korban Jiwa Warga Sukajaya di Pongkor
-
Parkiran Wahyu Motor Bogor Dilalap Api, 19 Motor Hangus hingga Rugi Ratusan Juta
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Sasar Hotel Hingga Kosan, Pemkab Bogor Wajibkan Pemilik Laporkan Indikasi Penyimpangan Seksual
-
Rugikan Negara Rp9,1 Miliar, Oknum ASN Penetap Proyek RSUD Parung Dijebloskan ke Lapas
-
Buntut Aksi 'Bogor Bersih LGBT', Pemerintah Warning Kelompok Pemuda yang Main Hakim Sendiri
-
John Herdman Berburu Kiper Pelengkap 23 Pemain Inti Skuad Garuda
-
Hotman Paris: Rumah Sentul Milik Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Tapi Isinya Milik Orang Lain