- BMKG mendeteksi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mencapai wilayah Bogor pada Minggu, 6 September.
- Sekda Kabupaten Bogor meminta warga mengenakan masker dan membatasi aktivitas luar ruangan demi mencegah gangguan pernapasan.
- Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk membersihkan endapan abu dengan hati-hati serta memantau informasi resmi BMKG.
SuaraBogor.id - Sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau terpantau sudah sampai ke wilayah Bogor. Menanggapi hal ini, Pemkab Bogor meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.
Sekda Kabupaten Bogor, Ajat Rochmat Jatnika, mengimbau warga agar selalu mengenakan masker demi mengantisipasi risiko gangguan pernapasan akibat partikel abu.
"Warga diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah sebagai langkah perlindungan dari paparan partikel abu vulkanik," tegas Ajat, Minggu.
Sebaran abu vulkanik hingga wilayah Bogor diketahui berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui analisis RGB Citra Satelit Himawari-9 pada Minggu (6/9) pukul 05.00 WIB.
BMKG memantau sebaran abu vulkanik dengan menyinkronkan hasil analisis citra satelit dengan data aktivitas erupsi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin.
Berdasarkan hasil observasi satelit, sebaran abu vulkanik teridentifikasi pada dua zona ketinggian dengan arah pergerakan berbeda.
Pada zona permukaan hingga ketinggian 20.000 kaki, abu vulkanik bergerak ke arah timur laut-selatan dan mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta wilayah perairan di sekitarnya.
Sementara pada zona permukaan hingga ketinggian 50.000 kaki, abu bergerak ke arah barat daya-barat laut dengan cakupan sebagian wilayah Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, hingga Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten.
Ajat mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi lingkungan mulai terdampak abu vulkanik.
Baca Juga: Kemarau Ekstrem 2026: 8.249 Hektare Sawah di Bogor Kekeringan, Jonggol Mulai Gagal Panen
Masyarakat yang menemukan endapan abu diminta membersihkannya secara hati-hati agar partikel tidak kembali beterbangan dan terhirup.
Pemkab Bogor meminta masyarakat terus memantau informasi resmi dari BMKG dan instansi terkait untuk mengetahui perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau maupun pergerakan sebaran abu vulkanik. [Antara].
Berita Terkait
-
Kemarau Ekstrem 2026: 8.249 Hektare Sawah di Bogor Kekeringan, Jonggol Mulai Gagal Panen
-
Mitra Strategis Bupati Rudy Susmanto, Kadin Bogor Siap Jadikan Tegar Beriman Rumah Pengusaha
-
Mengenal Leadless Pacemaker, Alat Pacu Jantung Ukuran Mini untuk Pasien Berisiko Tinggi
-
Pertalite Kembali Langka di Bogor
-
Polisi Bongkar Jaringan Merkuri Ilegal 1 Ton Senilai Rp2,8 Miliar, Pasok Tambang Emas di 3 Wilayah
Terpopuler
- Maarten Paes Mulai Kehilangan Tempat di Ajax, Petinggi PSSI Pasang Badan
- Jalan Kolmas Ditutup Total 67 Hari, Polres Cimahi Siapkan Dua Jalur Alternatif
- 4 HP Xiaomi RAM 8 GB Snapdragon Paling Murah untuk Berbagai Kebutuhan
- 3 Rekomendasi HP vivo RAM 8 GB Snapdragon Paling Murah untuk Dipilih
- KBRI Kuala Lumpur Digeruduk, Warga Malaysia Desak Prabowo Buka Nama Perusahaan Terlibat Karhutla
Pilihan
-
Kedutaan Besar Negara Asing Keluarkan Peringatan untuk Warganya Pasca Erupsi Anak Krakatau
-
Kabut Asap Makin Pekat, Doa Apa yang Bisa Dibaca Muslim? Ini Bacaan Perlindungannya
-
Jakarta Terdampak Abu Vulkanik Anak Krakatau, Pemprov DKI Terapkan PJJ Mulai Besok
-
Badan Geologi Ungkap Kondisi Anak Krakatau Terkini: Tak Ada Potensi Runtuh Picu Tsunami
-
Terungkap! Sebelum Audiensi dengan Pimpinan DPR, Botok Ditelpon Prabowo
Terkini
-
Kondisi Bogor Terdampak Krakatau, Sekda Imbau Warga Kurangi Aktivitas Luar Rumah
-
Kemarau Ekstrem 2026: 8.249 Hektare Sawah di Bogor Kekeringan, Jonggol Mulai Gagal Panen
-
Mitra Strategis Bupati Rudy Susmanto, Kadin Bogor Siap Jadikan Tegar Beriman Rumah Pengusaha
-
Mengenal Leadless Pacemaker, Alat Pacu Jantung Ukuran Mini untuk Pasien Berisiko Tinggi
-
Pertalite Kembali Langka di Bogor