Baba mendengar info ini beramai-ramai dengan warga yang lain di rumah satu-satunya tetangga yang memiliki radio saat itu, Bani.
Sebelum disiarkan di radio, sudah ada desas-desus di masyarakat tentang usaha PKI merebut kekuasaan secara paksa di malam G30SPKI.
Namun karena akses informasi yang terbatas, masyarakat tidak dapat memastikan kebenaran desas-desus yang beredar.
Akibatnya, banyak warga yang bingung dan gelisah. Mereka takut perang akan kembali pecah di Indonesia.
Baca Juga:Bejat! Mau Gagahi Istri Orang, Oknum Petugas Keamanan di Bogor Ditangkap
Kegelisahan warga makin menjadi karena tidak kunjung ada penjelasan dari Presiden Soekarno terkait situasi nasional yang termutakhir.
“Kalau Bung Karno udah ngomong biasanya warga tenang, tapi waktu itu gak ada. Sampai warga bertanya-tanya, ‘ini pemimpin kita kemana?”
Peristiwa G30SPKI menjadi tonggak sejarah yang menandakan peralihan rezim pemerintahan dari orde lama di bawah pimpinan Presiden Soekarno ke orde baru di bawah Presiden Soeharto.
Selain menjadi berdampak pada politik nasional, peristiwa ini juga memberi “pukulan telak” pada ekonomi negara. Pukulan ini membuat rakyat menderita selama beberapa tahun ke depan.
“Dari 1965 pasca G30SPKI sampai 1970an ibaratnya rakyat tu sengsaranya setengah modar,” beber Baba.
Baca Juga:Polda Metro Targetkan 70 Persen Warga Depok Telah Divaksin Dosis Pertama Pada Oktober
Sebetulnya, kondisi ekonomi masyarakat memang belum stabil pasca kemerdekaan. Pemerintah sampai pernah memotong nilai Rupiah pada 1963. Uang yang awalnya bernilai 10.000, turun nilai menjadi 1.000.