Menurut Andi, narasi yang tunggal tak lagi bisa diterima sejumlah anak muda atau milenial.
"Satu versi cerita itu tidak bisa lagi ditampilkan dalam satu versi seperti pada dekade-dekade sebelumnya dengan keterbukaan informasi sekarang."
"Menurut saya akan lebih baik melihatnya sebagai satu peristiwa sejarah dengan pembahasan historiografi, ada satu versi, ada versi lain, dan bagaimana kita bisa menarik kesimpulan dari berbagai versi," ujarnya.
Ia mengatakan dialog mengenai sejarah ini harus dilakukan agar anak muda tak memiliki wawasan "sepotong-sepotong" mengenai kasus ini.
Baca Juga:Perolehan Medali PON Papua 29 September: DKI Geser Tuan Rumah