- Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor mencatat 93.719 kasus ISPA sepanjang Januari hingga September 2026.
- Kasus ISPA bulan September 2026 meningkat sebesar 12,6 persen dibandingkan bulan Agustus sebelumnya.
- Peningkatan tertinggi tercatat di Kecamatan Ciampea sebesar 20,6 persen berdasarkan data daerah.
SuaraBogor.id - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor mencatat sebanyak 93.719 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) terjadi sepanjang Januari hingga September 2026.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Fusia Meidiawaty, mengatakan jumlah kasus ISPA sepanjang 2026 masih mengalami fluktuasi. Namun, peningkatan kasus pada September menjadi salah satu perkembangan yang perlu mendapat perhatian.
Terlebih, peningkatan tersebut terjadi di tengah fenomena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpotensi memengaruhi kesehatan pernapasan masyarakat.
Meski demikian, Fusia menegaskan bahwa kenaikan kasus ISPA tersebut belum dapat secara langsung dikaitkan dengan paparan asap karhutla. Diperlukan analisis lebih lanjut dengan membandingkan data kasus ISPA dan kondisi kualitas udara di wilayah setempat.
Baca Juga:KPK Periksa Menteri Nusron Wahid Hari Ini
“Asap karhutla memang dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan akibat partikel halus PM2,5. Namun, peningkatan kasus ISPA di Kabupaten Bogor masih memerlukan analisis data kasus dan kualitas udara setempat,” kata Fusia saat dihubungi, Jumat (23/10/2026).
Berdasarkan data Dinkes Kabupaten Bogor yang dirangkum SuaraBogor.id, jumlah kasus ISPA pada September 2026 meningkat sebesar 12,6 persen dibandingkan Agustus 2026.
Sementara itu, berdasarkan data yang disajikan dalam grafik, Kecamatan Ciampea mencatat angka tertinggi sebesar 20,6 persen. Posisi berikutnya ditempati Kecamatan Cibungbulang sebesar 19,8 persen dan Kecamatan Leuwiliang sebesar 17,6 persen.
Di sisi lain, Fusia menyebut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 17 Oktober 2026 menyampaikan bahwa sebaran asap yang sempat terpantau di wilayah Jabodetabek mulai menjauh dan tidak berdampak terhadap kualitas udara di permukaan.
Meski begitu, Dinkes Kabupaten Bogor akan terus meningkatkan koordinasi lintas sektor serta memastikan kesiapan puskesmas dalam menangani masyarakat yang mengalami ISPA.
Baca Juga:Pekan Ini, Menteri ATR/BPN Dipanggil KPK Sebagai Saksi
Fusia juga mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk, menggunakan masker, serta menghindari paparan asap.
Selain itu, perlindungan khusus perlu diberikan kepada kelompok rentan, seperti balita, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan.
“Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas luar ruangan saat kualitas udara memburuk, menggunakan masker, menghindari paparan asap, serta melindungi balita, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan,” pungkasnya.
Kontributor : Dziharul Islam Nusantara