- Dua mantan sopir angkot di Bogor menyulap kendaraan tua mereka menjadi lapak kelapa muda akibat sepi penumpang.
- Sejak sekitar Oktober 2026, Ari dan Jerry menjalankan usaha baru di Kelurahan Curug untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
- Hasil penjualan kelapa muda memberikan pemasukan harian yang lebih pasti dibandingkan saat menjadi sopir angkot.
SuaraBogor.id - Angkot tua berwarna hijau itu kini tak lagi mengangkut penumpang. Bagian belakangnya telah dimodifikasi menjadi bak terbuka untuk menampung puluhan kelapa muda yang dijajakan setiap hari.
Di Kelurahan Curug, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Jawa Barat, kendaraan yang dulunya menjadi sumber penghidupan di jalanan kini berubah fungsi menjadi lapak dagangan.
Adalah Ari (56), yang memanfaatkan angkot tersebut untuk berjualan kelapa muda. Tak jauh dari tempatnya, tepatnya di seberang jalan, keponakannya, Jerry (30), menjalankan usaha serupa.
Keduanya memiliki cerita yang hampir sama. Setelah bertahun-tahun menjadi sopir angkot, mereka akhirnya memilih beralih profesi karena semakin sulit mendapatkan penumpang.
Baca Juga:KPK Sita Rp106,3 Miliar di Kasus ATR/BPN, Kuasa Hukum Summarecon Buka Suara
Pantauan SuaraBogor.id di lokasi, sejumlah bagian bodi angkot milik Ari tampak berkarat. Tumpukan kelapa muda memenuhi bagian belakang kendaraan yang telah dimodifikasi menjadi semi bak.
Dengan sebilah pisau dan bantuan sebatang kayu sebagai tumpuan, Ari mengupas kelapa satu per satu sebelum disajikan kepada pembeli.
Bagi Ari, perubahan fungsi angkot tersebut bukan sekadar pergantian usaha. Ada kebutuhan keluarga yang harus tetap dipenuhi di tengah semakin sulitnya mencari nafkah sebagai sopir angkutan umum.
Ari mengaku sudah menjadi sopir angkot sejak sekitar 1990-an. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, penghasilannya semakin tidak menentu karena jumlah penumpang terus berkurang.
"Sekarang kan nyari penumpang udah susah," kata Ari saat ditemui SuaraBogor.id, Selasa (3/11/2026).
Baca Juga:Polisi Kedapatan Pakai Vape di Bogor Bisa Dilaporkan, Ini Cara Aduannya
Sekitar sebulan lalu, ia mulai berjualan kelapa muda menggunakan angkot yang telah dimodifikasi. Kendaraan tersebut bukan miliknya sendiri, melainkan fasilitas dari pemilik usaha yang memberinya kesempatan untuk mencari penghasilan.
"Ya kita ada donatur yang mau ngasih jalan usaha dari kelapa, ya kita akhirnya beralihlah, gitu," ujarnya.
Menurut Ari, memanfaatkan angkot tua menjadi pilihan yang lebih terjangkau dibandingkan harus membeli mobil pikap. Biaya modifikasi kendaraan itu sekitar Rp2 juta.
Kini, ia menjual kelapa muda dengan harga bervariasi, mulai Rp6.000 untuk ukuran kecil, Rp8.000 ukuran sedang, hingga Rp10.000 untuk ukuran besar.
Setiap hari, Ari mulai berjualan pukul 08.00 hingga 18.00 WIB. Pada hari biasa, ia membawa sekitar 50 buah kelapa. Sementara saat hari libur, jumlahnya bisa meningkat hingga 100 buah.
Dari usaha tersebut, Ari mengaku bisa memperoleh pendapatan bersih sekitar Rp100.000 ketika sepi dan mencapai Rp150.000 saat ramai.