-
Kabupaten Bogor menempati peringkat pertama di Indonesia dengan jumlah penduduk miskin absolut tertinggi, mencapai 401,86 ribu jiwa menurut data BPS.
-
Menteri Maruarar Sirait menyoroti paradoks kemiskinan ekstrem Bogor di tengah domisili elite, termasuk kediaman Presiden Prabowo dan SBY.
-
Pemkab Bogor membela diri, menyatakan persentase kemiskinan rendah (6,25%) karena populasi yang besar, dan menyiapkan Rp 700 M untuk bedah rumah.
SuaraBogor.id - Sebuah kabar mengejutkan datang dari Senayan yang seketika menampar wajah birokrasi di wilayah penyangga ibu kota. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi V DPR RI, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, membuka "kartu truf" yang selama ini mungkin luput dari sorotan nasional.
Faktanya cukup pahit Kabupaten Bogor, daerah yang dikenal asri dan menjadi tempat tinggal para elit politik, menduduki peringkat pertama sebagai daerah dengan jumlah penduduk miskin tertinggi di Indonesia. Bagaimana mungkin daerah yang menjadi domisili dua Presiden RI ini memiliki ketimpangan sosial yang begitu menganga?
Untuk kamu yang penasaran dengan paradoks ini, berikut rangkuman 5 fakta penting di balik status "Juara Miskin" Kabupaten Bogor:
1. "Juara" Kemiskinan Absolut di Antara 100 Kota
Menteri Maruarar Sirait, atau akrab disapa Ara, tidak main-main dengan datanya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di Kabupaten Bogor menembus angka 401,86 ribu jiwa. Angka ini adalah yang tertinggi jika dibandingkan dengan 100 kota/kabupaten lainnya di Indonesia.
"100 kabupaten dengan jumlah penduduk miskin terbesar. Paling tinggi di Kabupaten Bogor," ungkap Menteri Ara tegas dalam rapat tersebut.
2. Paradoks Tetangga Elite: Prabowo dan SBY
Poin ini yang paling menyita perhatian publik dan netizen. Menteri Ara menyoroti ironi di mana kemiskinan ekstrem hidup berdampingan dengan kekuasaan tertinggi di republik ini. Wilayah Hambalang (kediaman Presiden Prabowo) dan Cikeas (kediaman Presiden ke-6 RI SBY) berada di yurisdiksi yang sama dengan ratusan ribu warga miskin tersebut.
"Bapak Prabowo tinggal di situ, Bapak SBY tinggal di Kabupaten Bogor. Jumlahnya segitu," papar dia, menyentil realitas sosial yang kontras.
Baca Juga: Kabupaten Bogor Jadi Kantong Kemiskinan Terbesar Se-Indonesia, Padahal Rumah Prabowo dan SBY
3. Pembelaan Pemkab: "Penduduk Kami Jumbo!"
Merespons data menohok dari pusat, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor angkat bicara. Kepala Bappedalitbang, Bambam Setia Aji, memberikan konteks bahwa angka kemiskinan tersebut terlihat besar karena populasi Kabupaten Bogor yang sangat masif, diprediksi mencapai 6 juta jiwa pada 2025. Jumlah ini bahkan lebih besar dari populasi banyak provinsi di Indonesia.
“Walaupun jumlah penduduk miskin 446.790 orang, itu berbanding dengan 6 juta Jiwa penduduk Kabupaten Bogor," kata Bambam membela diri.
4. Secara Persentase, Sebenarnya "Aman"?
Jika dilihat dari kacamata statistik persentase, Pemkab Bogor mengklaim kinerja mereka sebenarnya cukup baik, bahkan lebih baik dari rata-rata nasional dan Jawa Barat.
- Nasional: 9,63%
- Jawa Barat: 7,46%
- Kabupaten Bogor: 6,25%
"Rasio kemiskinan di Kabupaten Bogor ini justru lebih rendah dari rata-rata Provinsi Jawa Barat dan Nasional. Tren penurunan kemiskinan juga tercatat sejak 2021 dengan angka kemiskinan berada di 8,13 persen, kini turun ke 6,25 persen di 2025,” jelas Bambam.
5. Strategi Rp 700 Miliar dan Gebrakan UHC 1 Triliun
Tidak ingin terus dilabeli miskin, Pemkab Bogor menyiapkan "amunisi" anggaran jumbo. Tahun 2025, dana Rp 700 miliar disiapkan untuk bedah rumah dan pemberdayaan ekonomi.
"Tahun 2025 ditargetkan sebanyak 3.406 unit rutilahu diperbaiki untuk meningkatkan kualitas hunian masyarakat tidak mampu,” ungkap Bambam.
Tak hanya itu, ancang-ancang besar disiapkan untuk tahun 2026 dengan anggaran Rp 1 Triliun demi menjamin kesehatan gratis 100% (Universal Health Coverage) bagi warganya.
Berita Terkait
-
Kabupaten Bogor Jadi Kantong Kemiskinan Terbesar Se-Indonesia, Padahal Rumah Prabowo dan SBY
-
Warga Bogor Siap-Siap! RPH Kabupaten Bogor Naik Kelas, Jadi yang Pertama Berstandar Halal Penuh
-
Mimpi ke Tanah Suci Tertunda! Ribuan Jemaah Haji Bogor Batal Berangkat 2026
-
Merasa Diganggu Terus-Menerus, Penjual Pecel Lele di Cileungsi Lampiaskan Dendam ke Anggota Ormas
-
Waspada! Kabupaten Bogor Juara 1 Daerah Paling Rawan Bencana se-Jawa Barat
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
- Menkop Ferry Minta Alfamart dan Indomaret Stop Ekspansi Karena Mengancam Koperasi Merah Putih
Pilihan
-
SBY Sentil Doktrin Perang RI: Kalau Serangan Udara Hancurkan Jakarta, Bagaimana Hayo?
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
-
Bikin APBD Loyo! Anak Buah Purbaya Minta Pemerintah Daerah Stop Kenaikan TPP ASN
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
Terkini
-
Tersangka AF Lawan Arus di Cibinong Hingga Menelan Korban Jiwa, Hasil Tes Urine Dinanti
-
Polres Bogor Resmi Tahan Majikan ASN BPK Pelaku KDRT ART di Gunung Putri
-
Jangan Sampai Kehabisan! Pendaftaran Mudik Gratis 2026 Dibuka, Cek Daftar Instansinya di Sini
-
File APK Palsu Kuras Rekening di Batang, Pakar Imbau Nasabah Waspada
-
Maut di Jalan Raya Jakarta Bogor! Pengendara Motor Tewas Usai Tabrakan Lawan Arus di Pakansari