SuaraBogor.id - Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Alissa Wahid bongkar sosok Abu Janda atuu Permadi Arya. Abu Janda terbelit kasus ujaran Islam Arogan dan isu SARA.
Seperti dilansir lama NUonline, Alissa Wahid mengatakan jika Abu Janda bukan bagian dari poros NU. Ini bertolak belakang dengan klaim Abu Janda yang kerap mengenakan atribut Barisan Ansor Serbaguna (Banser) atau bahkan merasa mewakili Nahdlatul Ulama (NU).
Alissa Wahid menilai orang-orang semacam Abu Janda itu sangat mengganggu karena bukan bagian dari kelompok atau poros NU, tapi seringkali bicara soal agama. Abu Janda sesungguhnya tidak punya otoritas untuk, misalnya, mengatakan bahwa Islam adalah agama arogan.
“Dia (Abu Janda) tidak benar-benar menguasai ilmu agama, artinya kita nggak pernah melihat dia sebagai bagian dari kelompok atau poros-poros NU. Jadi dia kan bukan bagian dari poros-poros NU, pesantren juga enggak,” ungkap Alissa, kepada NU Online, Sabtu (30/1/2021) lalu.
Baca Juga:Soal Islam Agama Arogan, Cak Nun Beri Respons Telak: Tidak Masuk Akal
![Pegiat media sosial, Permadi Arya alias Abu Janda, usai menjalani pemeriksaan Direktorat Tindak Pidana Siber (Dit Tipidsiber) Bareskrim Polri terkait kasus ujaran kebencian 'Islam Arogan', Senin (1/2/2021) malam. [Suara.com/Muhammad Yasir]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/02/01/19353-abu-janda.jpg)
Namun sayangnya, atribut NU selalu menempel di tubuh Abu Janda sehingga sebagian orang melihat bahwa dirinya adalah bagian dari NU.
Sebagian lagi menilai, penggunaan atribut NU oleh Abu Janda dengan berbagai ulah kurang baik yang sering dilakukan selama ini dianggap sebagai bagian dari penistaan terhadap NU.
“Nah pesan kita menurut saya sih lebih banyak ke masyarakat, hati-hati terhadap orang yang mengklaim dirinya adalah NU. Kalau ada orang yang menyebut dirinya NU ya kita nggak bisa apa-apa. Boleh-boleh saja,” katanya.
Namun jika ingin menjadi orang NU, tegas Alissa, harus senantiasa menjunjung tinggi nilai atau prinsip Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) An-Nahdliyah seperti tasamuh (toleran), tawasuth (moderat), tawazun (berimbang), i’tidal (tegak lurus), dan amar makruf nahi mungkar. Alissa menilai Abu Janda sudah sangat berlebihan.
Bahkan dalam setiap aktivitas dan perbuatannya, Abu Janda sudah tidak lagi menerapkan nilai-nilai tawasuth, tasamuh, dan i’tidal yang menjadi prinsip beragama warga NU.
Baca Juga:Diperiksa Kasus Islam Arogan, Abu Janda: Tak Ada Warga Negara Spesial

“Saya sih keberatan dia dianggap merepresentasikan NU karena NU tidak begitu. Hikmahnya adalah kita semua menjadi lebih ngeh (mengerti), seperti apa sih seharusnya menjadi orang NU itu. Itu hikmahnya,” tutur Alissa.
“Ketika sekarang orang ribut dengan perilaku Abu Janda dan mempertanyakan masa NU begitu (karena menilai Abu Janda adalah bagian dari NU)? Nah sekarang publik kita kasih tahu bahwa kalau orang NU, cara bersikapnya tidak seperti itu,” sambungnya.
Lebih lanjut ditegaskan, jika cara bersikap Abu Janda seperti maka jangan merepresentasikan NU. Sebab Nahdliyin berkhidmah untuk NU dengan mengedepankan prinsip-prinsip Aswaja An-Nahdliyah.
“Orang NU itu berkhidmah untuk NU-nya, bukan (seperti) dia yang malah justru memanfaatkan NU untuk kepentingan pribadi,” kata Alisssa.
Pernyataan Alissa Wahid pun disanggah oleh Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Amerika, Ahmad Sahal. Gus Sahal tidak setuju dengan penilaian Alisssa.
"Saya nggak setuju dengan Mbak @AlissaWahid Abu Janda @permadiaktivis1 itu kader banser yang resmi. Otomatis dia juga resmi anggota NU, bukan ngaku-ngaku NU. Bahwa AJ ndlodok, gaya ofensifnya nggak sesuai dengan aswaja NU, Banser mesti menjewernya. Dia harus ngaji lagi. Tapi jangan tak diakui sebagai NU," kata Sahal dalam akun Twitternya.