Yuk Disimak! 7 Penyebab Tidur Sering Ngiler

Bahkan, tidur mengiler itu biasanya membuat tidur kita tidak nyaman. Ada kalanya, kita tiba-tiba terbangun lantaran air liur ini mengganggu kelelapan saat istirahat.

Andi Ahmad S
Rabu, 23 Juni 2021 | 08:53 WIB
Yuk Disimak! 7 Penyebab Tidur Sering Ngiler
Ilustrasi tidur. (Sumber: Shutterstock)

"Saat kita akan tidur, hidung tersumbat cenderung terasa lebih buruk karena peningkatan aliran darah ke hidung dan kepala kita," katanya.

Dr. Nasseri menyarankan tidur dengan kepala ditinggikan, gunakan pelembab udara di malam hari untuk membuka saluran hidung dan memberikan kelembapan di dalam hidung, manfaatkan semprotan garam sebelum tidur untuk membersihkan hidung.

Mengalami Infeksi

Ketika memiliki infeksi sinus atau radang tenggorokan, sistem saraf menyebabkan pembengkakan tenggorokan, sehingga lebih sulit untuk menelan air liur Anda. Akibatnya, kata Dr. Nasseri, orang bernapas melalui mulut mereka, sehingga menghasilkan lebih banyak air liur dan, pada akhirnya, ngiler.

Baca Juga:Orangtua Wajib Tahu, Bayi Lebih Baik Tidur Sendiri Ini Alasannya

Solusinya, konsultasikan dengan dokter terkait perlu atau tidaknya antibiotik. Sementara itu, Dr. Nasseri menyarankan untuk minum banyak cairan dan mengonsumsi obat pereda nyeri yang dijual bebas untuk mengatasi ketidaknyamanan.

Menderita GERD

Penyakit refluks gastroesofagus (GERD) menyebabkan refluks asam karena kerongkongan tidak bekerja dengan benar dan memungkinkan asam lambung merayap mundur. Sebagai solusi, coba ubah posisi tidur ke sisi kiri untuk mengurangi refluks asam. Anda juga dapat melakukan perubahan pola makan dan gaya hidup untuk mengatasi refluks asam, termasuk menghindari makan setidaknya beberapa jam sebelum tidur.

Gangguan Tidur

Sleep Apnea atau gangguan tidur dapat memblokir saluran udara saat tidur, menyebabkan otak lupa mengirim sinyal ke tenggorokan dan otot mulut untuk bernapas. Jika sinyal ini diblokir, itu dapat menyebabkan produksi air liur berlebihan, yang menyebabkan air liur.

Baca Juga:Kapasitas RS Covid-19 di Jawa Sudah di Atas 80 Persen, Satgas: Tak Bisa Lagi Ditoleransi!

Ada berbagai tingkat keparahan apnea tidur, dari ringan hingga ekstrem, tetapi apa pun yang terjadi, Anda harus segera menemui dokter. Dr Nasseri mengatakan apnea dapat diobati dengan alat oral, seperti mesin CPAP, untuk memposisikan ulang area rahang dan mulut agar jalan napas tetap terbuka.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Lifestyle

Terkini