BNPB Kerahkan Mobil Satelit Tangani Dampak Longsor di Rumpin

Mobil komunikasi untuk mendukung jaringan komunikasi radio dan internet dikerahkan BNPB kepada BPBD Kabupaten Bogor.

Chandra Iswinarno
Senin, 13 September 2021 | 00:10 WIB
BNPB Kerahkan Mobil Satelit Tangani Dampak Longsor di Rumpin
Pantauan udara lokasi terdampak longsor di wilayah di Desa Cipinang, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Minggu (12/9/2021). [ANTARA/HO-BNPB]

SuaraBogor.id - Mobil komunikasi untuk mendukung jaringan komunikasi radio dan internet dikerahkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor dalam penanganan longsor di Desa Cipinang, Kecamatan Rumpin.

Selain mobil tersebut, BNPB juga mengirimkan tim pemetaan untuk memetakan dampak dan kerusakan akibat kejadian longsor di wilayah tersebut dengan memanfaatkan drone.

“Untuk situasi di lapangan memang mendung dan berkabut, kami menunggu dari pagi juga tapi sinar mataharinya tetap sama,” ujar salah satu personel pemetaan cepat Pusat Data, Informasi dan Komunikasi (Pusdatinkom) Kebencanaan BNPB Ardiyan Rizqi Ananda dalam keterangannya yang diterima Antara di Jakarta, Minggu (12/9/2021).

Longsor tersebut diperkirakan karena aktivitas pendirian beton pancang  untuk penahan material longsor di sisi barat dan barat laut pada tambang batuan andesit.

Baca Juga:Dua Rumah di Kabupaten Bogor Rusak Berat, Potensi Longsor Susulan Masih Ada

Seorang pekerja tambang mengatakan, sebelum longsor utama yang terjadi pada Jumat (10/9/2021) sore sekira pukul 16.00 WIB, beberapa kali longsor kecil terjadi di lokasi tersebut.

Sementara warga setempat mengatakan, getaran kerap dirasakan pada permukaan tanah di sekitar lokasi pembangunan saat proses pendirian beton pancang.

Lokasi longsoran merupakan wilayah dengan batuan dasar berupa perlapisan batuan lempung dengan batuan pasir yang telah mengalami pengikisan.

Jika dilihat lansekap dari kawasan terdampak, permasalahan pemanfaatan ruang kawasan menjadi permasalahan utama.

Galian tambang yang melebar hingga ke batas pemukiman membuat lereng tebing galian setinggi lebih kurang 40 meter tidak stabil, meski sedang ditambahkan tiang pancang sebagai penguat.

Baca Juga:Antisipasi Bencana Longsor, PUPR Banten Siapkan Alat Berat

Kaidah-kaidah keteknikan dalam penguatan lereng tidak terlihat di lapangan sehingga bencana longsor terjadi dan merusak sebagian kawasan pemukiman.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini