Di Klaten, Biro Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga (BPKK) DPD LDII Klaten mengadakan webinar ‘Peran Ibu Sebagai Manajer Keluarga dalam Menyongsong Pascapandemi COVID-19’. Acara ini bertujuan untuk mempersiapkan pendampingan orang tua dalam Pembelajaran Tatap Muka (PTM).
Bupati Klaten Sri Mulyani mengapresiasi webinar yang dihelat LDII itu. Ia mengatakan webinar tersebut menunjukan keseriusan LDII dalam meningkatkan kualitas pendidikan bangsa dan memberdayakan para wanita dalam keluarga.
Ia juga menegaskan bahwa tantangan pandemi memang tidak ringan, namun dengan tekad, hal yang sulit dapat menjadi ringan, “Covid-19 dapat membunuh manusia namun tidak akan bisa membunuh kreativitas manusia,” jelas Sri Mulyani.
Menurutnya, posisi wanita dalam sebuah rumah tangga terbilang strategis. Selain harus melayani beragam kepentingan dan kebutuhan keluarga, mereka juga disibukkan oleh profesionalisme. Apalagi, pada masa pandemi Covid-19, beban mereka memdampingi anak untuk belajar juga bertambah.
Baca Juga:Tewas di Kamar Mandi, Wanita 61 Tahun Ditikam Belasan Kali usai Dicabuli Remaja
Sementara di Kalimantan Tengah, Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Kalimantan Tengah Yulistra Ivo Sabran mengatakan Indonesia mengalami tantangan stunting dan para wanita berperan penting mencari solusinya.
“Gizi buruk yang dialami seorang anak dapat mengakibatkan gangguan metabolik atau bahkan dapat mengganggu belajar anak,” ujar Ivo yang juga istri Gubernur Kalimantan Tengah Sugianto Sabran, saat memberikan sambutan sekaligus membuka webinar Kesehatan dengan tema "Cegah Stunting dengan Gizi Seimbang untuk mewujudkan Generasi Emas Profesional dan Religius" yang diselenggarakan oleh DPW LDII Kalimantan Tengah, Minggu (31/10).
Percepatan penurunan stunting merupakan prioritas nasional sebagai upaya untuk mewujudkan sumber daya manusia yang sehat cerdas produktif dan berdaya saing,
"Salah satu tantangan membangun manusia Indonesia yang berkualitas adalah terkait dengan permasalahan yang sedang kita hadapi saat ini, yaitu standar gizi buruk yang kronis akibat kekurangan asupan gizi, " kata Ivo.
Menurutnya stunting bisa dicegah dengan memastikan kesehatan dan kecukupan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan. Untuk itu, para wanita perlu pengetahuan gizi, yang mencukupi agar stunting bisa ditekan atau bahkan dihilangkan. Ia menegaskan, baik pemerintah maupun seluruh elemen masyarakat harus terus meningkatkan pengetahuan ibu sebelum, saat, dan setelah melahirkan.
Baca Juga:Berhemat 9 Tahun dan Tak Pernah Jajan, Ibu Dua Anak di China Ini Bisa Beli Rumah
Pemerintah juga berperan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang memadai, kurangnya akses air bersih dan sanitasi (kebersihan lingkungan) dan mengedukasi tentang makanan bergizi yang berasal dari sumber daya lokal.