- Pakar kesehatan jiwa Dr. Nova Riyanti Yusuf mengidentifikasi empat pemicu utama keinginan bunuh diri pada remaja.
- Faktor pemicu meliputi kesepian, keputusasaan, kebutuhan akan penerimaan kelompok, dan beban ekspektasi orang tua.
- Dr. Nova menyarankan peningkatan kapasitas konselor sekolah dan penyediaan saluran telepon khusus pencegahan bunuh diri.
SuaraBogor.id - Isu kesehatan mental pada remaja" menjadi perhatian serius, terutama kasus-kasus tragis yang muncul di berbagai daerah. Pakar kesehatan jiwa, Dr. dr. Nova Riyanti Yusuf.
Dia menyampaikan faktor-faktor yang bisa memicu keinginan untuk bunuh diri pada remaja berusia 13 sampai 19 tahun.
"Tidak satu faktor saja yang membuat seseorang memutuskan untuk melakukan tindakan bunuh diri," kata Dr. Nova Riyanti Yusuf dilansir dari Antara, Jumat (13/2/2026).
Menurut Dr. Nova, ada empat faktor utama yang berpengaruh signifikan dalam memicu keinginan bunuh diri pada remaja:
Baca Juga:Geger di Ciomas, Ketua RT Ditemukan Tewas di Kebun, Diduga Depresi Akibat Sakit Menahun
1. Kesepian yakni bentuk Perasaan kesepian atau terisolasi, tidak memiliki orang yang bisa diajak berbagi masalah, menjadi beban berat.
2. Keputusasaan, yakni Perasaan putus asa akan masa depan, merasa tidak ada jalan keluar dari masalah yang dihadapi.
3. Kebutuhan Akan Rasa Memiliki yakni Kebutuhan fundamental untuk menjadi bagian dari sesuatu atau diterima dalam kelompok, yang jika tidak terpenuhi bisa menimbulkan perasaan terasing.
4. Beban: Beban hidup yang terasa terlalu berat, baik itu beban ekonomi, beban ekspektasi orang tua, atau beban akademik.
Menurut Dr. Nova, ada kemungkinan akan merasa menanggung beban berat dan kehilangan harapan. Lingkungan keluarga yang menginginkan anak memenuhi ekspektasi orang tua juga bisa menimbulkan beban pada anak.
Baca Juga:Gara-gara Terjerat Hutang, Pedagang Ayam di Cibinong Ditemukan Meninggal
Dr. Nova mengemukakan, dalam kasus bunuh diri anak di wilayah Nusa Tenggara Timur, anak yang tinggal di desa merasa tidak bisa menjadi bagian dari anak-anak seusia mereka karena merasa tidak bisa menggapai apa yang dimiliki oleh anak-anak di kota.
Menurutnya, tekanan akibat tidak bisa memiliki apa yang orang lain punya bisa membuat remaja menganggap mengakhiri hidup sebagai pilihan jalan keluar yang bisa ditempuh.
Ia mengatakan, kapasitas guru-guru konseling di sekolah perlu ditingkatkan agar mereka bisa membantu meringankan atau mengatasi masalah-masalah yang dikhawatirkan bisa memicu keinginan remaja untuk mengakhiri hidup.
Dr. Nova juga menyarankan penyediaan saluran telepon khusus untuk layanan konseling dan pencegahan bunuh diri bagi remaja.
Melalui layanan itu, remaja yang menghadapi masalah bisa menyampaikan keluhan, berkonsultasi, serta meminta masukan dan rekomendasi solusi.
"Sehingga dia bisa turun dari yang sangat ingin bunuh diri, minimal dia tahu ada yang mendengarkan, akhirnya mungkin dia ke-distract dan lain-lain sebagainya," kata Nova.