- Guru Besar IPB Dwi Andreas memperingatkan ancaman El Nino sangat kuat pada Agustus hingga Oktober 2026.
- Fenomena cuaca ekstrem tersebut berpotensi menurunkan produksi komoditas pangan nasional seperti padi dan jagung sebesar tiga hingga lima persen.
- Peringatan ini disampaikan dalam diskusi daring CORE Indonesia di Jakarta pada hari Jumat untuk mengantisipasi kerentanan pangan.
SuaraBogor.id - Sektor pangan nasional dibayang-bayangi ancaman serius pada paruh kedua tahun 2026. Merespons rilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memprakirakan puncak fenomena El Nino kategori sangat kuat pada periode Agustus hingga Oktober, Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa menekankan krusialnya langkah mitigasi cepat.
Dalam diskusi daring Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia di Jakarta, Jumat, Andreas memperingatkan bahwa tanpa antisipasi yang matang, ketahanan pangan nasional berada dalam posisi rentan.
“Ada potensi terjadi penurunan produksi di beberapa komoditas (pangan),” ujar Andreas memperingatkan dilansir dari Antara, Sabtu (15/8/2026).
Peringatan ini menjadi alarm keras bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk segera memetakan zona rawan kekeringan dan mengamankan pasokan air pertanian.
Baca Juga:Mata Air dan Sumur Mengering, 90 Jiwa di Bogor Selatan Terdampak Bencana Kekeringan
Meskipun Presiden Prabowo Subianto mengatakan dalam kurun satu tahun ini, Indonesia telah mampu mencapai swasembada delapan komoditas pangan, Andreas mengatakan terdapat beberapa komoditas yang harus diwaspadai terdampak El Nino seperti beras dan jagung.
“Kita berhadapan dengan situasi yang kurang menguntungkan, yaitu fenomena El Nino, sedangkan tahun 2025 kemarin kita memang diberkahi fenomena iklim yang menguntungkan untuk pertanian yang kita sebut sebagai La Nina, sehingga kita bisa menanam sepanjang tahun,” jelas dia.
Adapun padi dan jagung diprediksi akan mengalami penurunan produksi karena pengaruh cuaca panas ekstrem.
“Menurut saya terjadi penurunan produksi kira-kira ya ini sekitar 3-5 persen untuk padi. Selain itu, jagung kemungkinan juga akan menurun, karena jagung juga perlu air,” kata Andreas.
“Biasanya petani itu tanam jagung pada musim kedua setelah padi. Tapi kalau airnya tidak mencukupi, sudah tentu mereka akan mencari tanaman lain yang berumur lebih pendek, yang tidak perlu air dalam jumlah banyak,” ujar pria yang juga Research Associate CORE Indonesia itu menambahkan.
Baca Juga:Citeureup, Nanggung dan Babakan Madang Mulai Kekeringan, Ribuan Jiwa Krisis Air Bersih
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengatakan dalam kurun satu tahun ini, Indonesia telah mampu mencapai swasembada delapan komoditas pangan, yakni beras, jagung, cabai besar, cabai rawit, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam dan bawang merah sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.
"Dalam satu tahun terakhir, Indonesia mencapai swasembada 8 komoditas pangan," kata Prabowo dalam pidatonya di hadapan Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPD RI dan DPR RI Tahun 2026 di Gedung MPR/DPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat.