SuaraBogor.id - BRI menggelar acara BRI Outlook 2025, dan menampilkan Albert Francis Park, Kepala Ekonom dari Asian Development Bank (ADB).
“Selamat pagi, sebagai perwakilan dari Bank Pembangunan Asia, saya merasa sangat terhormat dapat berpartisipasi dalam BRI Outlook 2025, apalagi mengingat kepemimpinan historis BRI selama bertahun-tahun dalam mempromosikan inklusi keuangan dan pembangunan berkelanjutan,” demikian Albert Francis Park, Kepala Ekonom dari Asian Development Bank (ADB) membuat pidatonya.
Dalam bahasannya, Park membahas lima topik.
“Pertama, saya akan berbicara tentang proyeksi ekonomi untuk Indonesia dan Asia Tenggara.
Kedua, saya ingin membahas apa yang bisa kita pelajari dari penelitian ekonomi terbaru mengenai kapan pembiayaan mikro benar-benar berhasil untuk mempromosikan pertumbuhan dan meningkatkan pendapatan.
Ketiga, saya ingin membahas pengembangan UMKM di Indonesia dan Asia, lalu membicarakan kebijakan yang dapat mendukung pengembangan UMKM dan inklusi keuangan.
Terakhir, saya akan mengungkapkan beberapa kata tentang bagaimana mendukung UMKM dalam transisi hijau,” jelas Park.
Proyeksi terbaru ADB untuk pertumbuhan Indonesia adalah pertumbuhan akan mencapai 5% tahun ini dan inflasi akan berada di angka 2,8%.
“Ini mencerminkan pertumbuhan yang sangat tangguh di Indonesia, meskipun 8% adalah target yang layak, saya rasa 5% masih cukup baik dan bahkan sedikit lebih tinggi dari ekspektasi pertumbuhan kami untuk Asia Tenggara dan Asia berkembang secara keseluruhan,” kata Park menggarisbawahi.
Baca Juga: Hoax! BRI Bantah Kena Ransomware, Data Bocor Diduga Palsu
Menurutnya, di Indonesia, pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir didorong oleh konsumsi pribadi yang sangat kuat dan, lebih baru-baru ini, investasi publik yang lebih luas. Seperti yang dapat Anda lihat dari gambar ini, yang menunjukkan data terbaru mengenai indeks manajer pembelian, pada akhir tahun lalu kami mulai melihat pemulihan sektor manufaktur dan ekspor Indonesia.
“Namun secara keseluruhan di kawasan, Anda dapat melihat ada pola yang cukup berbeda, di mana beberapa ekonomi berkembang dengan baik termasuk Filipina. Jadi, apapun di atas 50 menunjukkan ekspansi yang ditandai dengan warna hijau, atau yang di bawah 50 menunjukkan kontraksi yang ditandai dengan warna merah. Anda dapat melihat beberapa ekonomi di kawasan ini masih mengalami kontraksi berdasarkan data terbaru bulan Desember dalam hal produksi manufaktur mereka, termasuk Vietnam, Korea, dan Malaysia.
Di sektor jasa, kami melihat ekspansi yang sangat kuat di semua ekonomi utama yang memiliki data, dan saya rasa itu juga terjadi di Indonesia,” kata Park.
“Pertanyaan yang paling sering diajukan kepada saya baru-baru ini adalah, apa yang akan terjadi dengan ekonomi Asia di bawah pemerintahan AS yang baru dan kebijakan yang sangat agresif yang mungkin diterapkan, terutama terkait dengan tarif, tetapi juga kebijakan lain yang memengaruhi AS. Di ADB, kami telah melakukan beberapa penelitian mengenai masalah ini,” lanjutnya
Menurutnya, ADB melakukan dua studi, satu yang lebih fokus pada model makroekonomi global dan satu lagi yang lebih fokus pada model perdagangan rinci untuk melihat tarif.
“Hasil yang saya presentasikan di sini berasal dari model makro kami dan menyarankan bahwa dampak kebijakan agresif AS dalam hal tarif 60% untuk China, tarif 10% untuk negara-negara lain, serta pembatasan imigrasi ke AS dan kebijakan fiskal ekspansif, secara keseluruhan hanya memiliki efek yang relatif moderat pada ekonomi di Asia.
Berita Terkait
-
Tak Ada Serangan Ransomware di BRI, Postingan Falcon Feeds Dipastikan Hoax
-
BRI: Data dan Dana Aman, Nasabah Tetap Dapat Gunakan Seluruh Sistem Layanan Perbankan
-
Momen Penuh Makna, BRI Gelar Potong Tumpeng Serentak hingga Bazaar UMKM
-
Kinerja Sehat, BRI Bagikan Dividen Interim Sebesar Rp20,46 Triliun untuk Pemegang Saham
-
Penghargaan Tahunan Bank Indonesia, Pemkab Bogor Jadi Kabupaten Terbaik Pada Kategori Ekonomi Digital
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- Status Terbaru Anak Purbaya: Mafia Ancam Presiden Dibalik Pemecatan Bapak, Ada Foto Raja Juli
- Update Reshuffle Kabinet Hari Ini: Menlu Sugiono Dikabarkan Diganti
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
Pilihan
-
Dari Aceh hingga Nusa Tenggara, Membaca Peta Ancaman Megathrust Indonesia
-
Kabar Buruk dari Italia: Jay Idzes Cedera 30-35 Hari Absen Bela Timnas Indonesia
-
Purbaya Ogah Bicara Panjang Saat Sertijab Menkeu ke Suahasil: Terima Kasih Semua
-
Apa Salah Purbaya hingga Dipecat Lewat Panggilan Telepon?
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
Terkini
-
KPK Endus Keterlibatan Swasta Lain di Kasus Suap Layanan Pertanahan ATR/BPN
-
Sebelum Terjaring OTT, Pihak Kementerian ATR/BPN Diduga Terima Rp300 Juta dari Summarecon Agung
-
KPK Tak Bidik Latar Belakang Politik Fahd El Fouz di Kasus Korupsi ATR/BPN
-
OTT Ke-20 KPK Terkait HGB Bogor: Seret Pejabat BPN, Eks Bupati Kebumen, dan Bos Summarecon
-
BRI Sabet Indonesia Sports Industry of the Year 2026, Konsisten Dukung Kemajuan Olahraga Indonesia