-
Adanya Ketimpangan Data Resmi dengan Fakta Lapangan Insiden asap di area PT Antam Pongkor ternyata menelan korban lebih banyak daripada yang diberitakan secara resmi. Kesaksian keluarga korban mengungkap total ada 11 orang yang terlibat, dengan rincian: 2 orang meninggal dunia (sudah dimakamkan), 4 orang masih terjebak/hilang, dan 5 orang selamat.
-
Tragedi Kemanusiaan di Lingkaran Tambang Ilegal Meskipun para korban berstatus sebagai penambang ilegal (gurandil), insiden ini merupakan tragedi kemanusiaan yang mendalam. Para korban adalah warga lokal yang nekat bertaruh nyawa demi mencari nafkah untuk keluarga, yang kini meninggalkan yatim dan janda dalam kondisi ekonomi sulit.
-
Lemahnya Pengawasan dan Transparansi Aparat Terkait Terungkapnya informasi ini dari pihak keluarga (Acip Supendi) menunjukkan adanya upaya penutupan fakta atau kegagalan aparatur setempat dalam mendeteksi skala sebenarnya dari aktivitas tambang ilegal di wilayah tersebut, hingga akhirnya memicu kecelakaan fatal yang tersembunyi dari publik.
SuaraBogor.id - Di balik asap tebal yang menyelimuti insiden tambang emas PT Antam Pongkor, sebuah kebenaran pahit kini terungkap dari kedalaman Desa Urug, Kecamatan Sukajaya.
Acip Supendi, seorang warga Kampung Anyar, datang dengan kesaksian yang mengguncang, membongkar fakta-fakta yang selama ini diduga tersembunyi dari aparatur setempat dan pemberitaan resmi.
Ia bukan sekadar saksi, melainkan seorang ayah yang kehilangan dan kakak ipar yang berduka.
Dengan suara yang mungkin masih menyimpan gemetar akibat duka, Acip Supendi mengungkap tragedi yang menimpa keluarganya, dan juga warga Desa Urug lainnya.
Peristiwa asap di area Antam yang viral pada Rabu, 14 Januari 2026, ternyata jauh lebih mengerikan dari yang diberitakan.
Acip Supendi menceritakan, ada sebanyak 11 orang warga Desa Urug Sukajaya yang bekerja sebagai penambang emas ilegal di area Antam itu yang terlibat dalam insiden tersebut.
Jumlah ini jauh lebih banyak dari perkiraan sebelumnya, menyoroti skala sebenarnya dari aktivitas penambangan ilegal dan potensi dampak yang lebih luas dari insiden yang terjadi.
Dari 11 orang tersebut, lima orang berhasil selamat pada peristiwa yang hingga saat ini masih tertutup dari aparatur setempat.
Sebuah kalimat yang menggarisbawahi kegagalan informasi resmi dalam menangkap seluruh dimensi tragedi ini. Mereka yang selamat membawa serta kengerian dari lubang gelap, menjadi saksi bisu dari apa yang terjadi di bawah tanah.
Baca Juga: Menunggu di Balik Pintu yang Tak Akan Pernah Terbuka, Kisah Pilu Istri Korban dalam Tragedi Pongkor
Namun, kabar duka jauh lebih dominan. Dua orang sudah dinyatakan meninggal dunia bernama Edi dan Jaka.
Edi adalah putra Acip, sementara Jaka adalah kakak iparnya. Mereka berdua telah dimakamkan pada Minggu, 18 Januari 2026, hari yang sama saat Acip mengungkapkan kisahnya.
"Yang udah datang dua orang, yang belum ditemukan ada 4 orang," katanya kepada wartawan, dengan wajahnya tak bisa menyembunyikan kepedihan.
Yang paling memprihatinkan, empat orang lainnya masih dalam proses evakuasi di lobang tikus (Gurandil) tersebut.
Hingga kini, nama-nama seperti Isep Septiana, Akim, Aji Pangestu ketiganya warga Desa Urug, serta Adam warga Desa Parakan Muncang, masih terperangkap di kedalaman perut bumi.
Sebuah penantian yang menyiksa bagi keluarga-keluarga yang masih berharap, namun berhadapan dengan kenyataan brutal kondisi tambang ilegal.
Berita Terkait
-
Menunggu di Balik Pintu yang Tak Akan Pernah Terbuka, Kisah Pilu Istri Korban dalam Tragedi Pongkor
-
6 Warga Desa Urug Diduga Terjebak di Jalur Tikus Tambang Antam, Polisi Buka Posko Laporan
-
Tragedi Pongkor: Polisi Sebut Nihil Korban, Kades Cigudeg Justru Konfirmasi 6 Warganya Tewas
-
Jaga Wilayah Ring 1 Tetap Kondusif, Bupati Rudy Susmanto Temui Danpaspampres
-
Sudah Main Pukul, Ogah Bayar Pula! Viral Kerusuhan di KTV Princess Parung, Waitress Jadi Korban
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- DPR Pertanyakan, Pemerintah Menjawab, Dari Mana Datang Isu Kipas Angin Rp1,8 T untuk Kopdes?
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Kulit Sawo Matang Jangan Salah Pilih Warna Lipstik! Ini 8 Pilihan yang Bikin Wajah Cerah Seketika
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Buntut Aksi 'Bogor Bersih LGBT', Pemerintah Warning Kelompok Pemuda yang Main Hakim Sendiri
-
John Herdman Berburu Kiper Pelengkap 23 Pemain Inti Skuad Garuda
-
Hotman Paris: Rumah Sentul Milik Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Tapi Isinya Milik Orang Lain
-
Terekam CCTV dan Viral di Medsos, Remaja Pengancam Pakai Golok di Citeureup Diringkus Polisi
-
Sihir Messi Sampai ke Bogor: Cerita Warga Ciampea Terharu Emosi di Alun-Alun Tegar Beriman