- Harga beras Indonesia lebih tinggi dari tetangga sejak 1980-an; masalah kronis ini akibat tata kelola dan regulasi.
- Beras segar penting untuk kualitas SDM dan atasi stunting, perlu sinergi lintas lembaga negara mengatasi krisis.
- Beras tua sebaiknya disalurkan ke industri tepung beras untuk menekan biaya simpan yang membengkak signifikan.
Dalam mengatasi hal ini, Edi menyarankan pemerintah melakukan intervensi dengan menyasar captive market pasar pasti, seperti industri tepung beras.
"Industri tepung beras justru tidak bisa menggunakan beras segar mereka membutuhkan aging rice. Di sinilah pemerintah bisa memberikan stimulus. Beras tua disalurkan untuk industri tepung dengan harga kompetitif melalui kerja sama dengan pengusaha yang sudah ada," tuturnya.
4. Swasembada Pangan Miskonsepsi: Logistik & Distribusi Harus Dibenahi
Edi menutup dengan menekankan bahwa swasembada pangan dengan surplus 4 hingga 8 juta ton tidak akan berdampak maksimal jika logistik dan distribusi tidak dibenahi.
Ia mengkritik bahwa miskonsepsi swasembada pangan hanya berfokus pada produksi, tanpa memperhatikan rantai pasok. Ini adalah kritik pedas terhadap kebijakan pangan Indonesia yang belum komprehensif.
5. Perlu Sinergi Lintas Lembaga Negara, Jangan Kerja Sendiri-sendiri
Solusi krisis pangan ini tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Edi mendorong adanya kolaborasi kuat antar-instansi negara.
"Secara kelembagaan, ini tidak bisa dilakukan sendiri. Kita punya Badan Pangan, Kementerian Pertanian, Kemenko Perekonomian, Badan Gizi, hingga BPOM. Dibutuhkan sinergi antarlembaga untuk mengelola pengawasan makanan dan kualitas hidup masyarakat kita," pungkasnya.
Baca Juga: Kabar Gembira! Pemkab Bogor Gelar Pangan Murah di Cibinong, Harga di Bawah Pasar
Berita Terkait
-
Kabar Gembira! Pemkab Bogor Gelar Pangan Murah di Cibinong, Harga di Bawah Pasar
-
Serbu! 4 Spot Berburu Takjil Paling Hits di Dramaga Bogor untuk Mahasiswa IPB
-
Benarkah Isi Bensin Siang Hari Lebih Rugi? Dosen IPB Bongkar Faktanya Secara Ilmiah
-
Wujud Kepedulian, IPB University Kucurkan Donasi Tahap 2 Senilai Rp80 Juta untuk Sumatera
-
Dr. Alim Ditantang Prof. Arif Satria Wujudkan Mimpi Global South Leadership yang Tertunda
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- Misteri Lenyapnya Bocah 4 Tahun di Tulung Madiun: Hanya Sekedip Mata Saat Ibu Mencuci
Pilihan
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
Terkini
-
Sentul City Jadi Basis Penipuan Daring, 13 WNA Jepang Diusir dari Indonesia
-
Bogor Diguyur Hujan Lebat, Bendung Katulampa Masih Aman di Level Siaga 4
-
Publik Tuntut Transparansi Terkait Karut Marut Pengadaan Sarana Pendidikan
-
Penduduk Terbanyak se-Indonesia, Kabupaten Bogor Bakal Punya 1.000 Satuan Pelayanan Gizi
-
Viral Menu Buruk Makan Gratis, Kepala Badan Gizi: Itu Hanya Sebagian Kecil dari 25 Ribu Titik