- Tiga korban kekerasan seksual di pondok pesantren wilayah Ciawi melapor ke Polres Bogor pada 29 April 2026.
- Orang tua korban menduga terdapat belasan santri yang menjadi korban akibat kelalaian pihak pengelola pondok pesantren tersebut.
- Pihak keluarga menuntut perlindungan hukum serta keadilan atas dugaan kasus yang sudah berlangsung lama dan berulang itu.
SuaraBogor.id - Sebuah kasus dugaan kekerasan seksual di lingkungan pondok pesantren wilayah Ciawi, Kabupaten Bogor, kini menjadi sorotan tajam publik.
Laporan resmi terkait kasus ini telah diajukan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Bogor pada Rabu, 29 April 2026, menandai dimulainya proses hukum untuk mengungkap kebenaran dan mencari keadilan bagi para korban.
Insiden ini kembali menyoroti pentingnya perlindungan anak di lingkungan pendidikan, terutama di lembaga keagamaan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari akun X @dhemit_is_back, sedikitnya tiga korban bersama orang tua mereka telah datang melapor ke Unit PPA Polres Bogor.
Keberanian korban dan keluarga untuk bersuara adalah langkah krusial dalam upaya memberantas kejahatan seksual yang seringkali terjadi dalam kerahasiaan.
Salah satu orang tua korban mengungkapkan keresahannya dan meminta dukungan publik serta perlindungan bagi anaknya.
Ia menyebut, kasus ini bukan baru pertama kali terjadi dan diduga sudah berlangsung cukup lama.
“Kasusnya sudah banyak banget, bahkan dulu juga sudah pernah ketahuan, cuma sangat lalai pondok pesantrennya. Saya minta dukungannya,” ujar salah satu orang tua korban, dilansir dari MetroBogor -jaringan Suara.com, Kamis (30/4/2026).
Dalam keterangannya, ia juga menyebut jumlah korban bisa mencapai belasan orang.
Baca Juga: Pakansari Jadi Pusat Kemeriahan HJB ke-544: Ada Bogor Run, Festival Budaya, hingga Pesta UMKM
“Korbannya sudah banyak, sampai 17 orang,” ucapnya.
Orang tua tersebut mengaku khawatir akan adanya intimidasi dan meminta perlindungan dari berbagai pihak, termasuk lembaga terkait.
“Saya benar-benar orang awam, takutnya ada intimidasi dari keluarga atau pihak lain. Untuk anak saya juga saya minta perlindungan dari KPAI atau dari semuanya,” lanjutnya.
Menurutnya, terduga pelaku yang disebut berasal dari internal pesantren hanya sempat diberi sanksi administratif.
“Pesantren sebenarnya sudah pernah ada laporan dan tahu, tapi tidak ditindaklanjuti. Hanya di-DO dan kemudian diperkerjakan kembali sampai ada korban lagi,” ungkapnya.
Berita Terkait
-
Pakansari Jadi Pusat Kemeriahan HJB ke-544: Ada Bogor Run, Festival Budaya, hingga Pesta UMKM
-
Viral Dugaan Jual Beli Jalur Tambang Pongkor, PT Antam Investigasi Oknum Internal
-
Zonasi SMAN 1 Bogor Bakal Dihapus? Komisi IV DPRD Soroti Skema Sekolah 'Maung'
-
Dukung Asta Cita Presiden, Pemkab Bogor Percepat Operasional 189 Koperasi Merah Putih
-
5 Rekomendasi Tempat Ngopi Nuansa Alam di Bogor Terbaru 2026, Dijamin Anti Boring
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- Djarum Digeledah KPK, Publik Ramai Kaitkan dengan Isu Haji Isam dan DBS
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Cara Cek KTP Kita Terdaftar di Pinjol Apa Saja?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Sudah Tunjukkan ID Card Tapi Tetap Diamankan, Jurnalis di Bogor Sempat Diminta Hapus Video
-
Bupati Bogor Sulap Horison Sayaga Jadi Destinasi Rekreasi
-
BRI Raih Empat Penghargaan di Top 20 Financial Institutions Award 2026
-
Temani Istri Beli Makan, Pria di Bogor Malah Bacok Bobotoh hingga Tewas
-
Pesan Menohok Bupati Bogor ke Pengelola Dapur MBG: Presiden yang Disalahkan jika Ada Kesalahan