SuaraBogor.id - Salah satu metode tidak memakan sayur disebut menghambat proses penurunan berat badan secara drastis. Baru-baru ini metode yang digunakan itu ramai di perbincangkan.
Untuk mengetahui kebenarannya, kita simak penjelasan mengenai sayur hambat penurunan berat badan.
Dikutip dari Ayobandung.com -media jaringan- Suara.com, Jumat (5/3/2021). Ahli gizi lulusan Universitas Indonesia sekaligus ketua Indonesia Sport Nutrisionis Association (ISNA) Dr. Rita Ramayulis, meluruskan pandangan itu.
Menurutnya diet ekstrem yang tidak menyertakan serat di dalam menu harian sebenarnya sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh. Ia mengimbau cara itu baiknya dihindari.
Baca Juga:Ingin Punya Berat Badan Ideal, Ini Kalori yang Dibutuhkan
"Ini salah kalau dikatakan sayur menghambat penurunan berat badan. Secara kimia tubuh, justru sayur yang membantu (saat) terjadinya kerusakan metabolik ketika kita melakukan defisit energi," kata Dr. Rita.
Rita menjelaskan, bahwa tubuh akan memakai energi secara 24 jam tanpa bergerak. Terlebih untuk menggerakkan organ-organ tubuh yang tidak diperintah. Misalnya jantung berdetak, kerja ginjal, hati, usus, dan lambung. Organ-organ ini membutuhkan energi untuk bekerja.
"Ketika kita mendefisitkan energi, kemudian mikronutrien (seperti vitamin dan mineral) dan seratnya tidak dicukupi, itu akan membuat sistem kerja metabolik energi itu berlangsung tidak sempurna, dan itu tubuh membutuhkan serat dari sayuran," jelasnya.
Selain itu, sayur memiliki serat yang fungsi utamanya adalah untuk menjaga keseimbangan mikrobiota dalam tubuh. Dr. Rita memaparkan, mikrobiota di tubuh memakan serat. Mikrobiota ini memiliki peran penting terhadap imunitas tubuh. Jika tidak ada serat yang masuk, maka mikrobiota akan mati, dan menyebabkan antibodi tidak terbentuk, sehingga imunitas melemah.
Selanjutnya, sayur dan serat juga berfungsi untuk mengontrol kolesterol dan menstabilkan kadar glukosa darah. Jika hanya memakan nasi dengan lauk tanpa serat, maka kadar glukosa akan naik dan merangsang insulin.
Baca Juga:Kurangi Efek Samping Vaksin Covid-19, Coba Makan Sup Ayam!
"Insulin, kalau diproduksi dalam jumlah yang tinggi, bisa terjadi proses inflamasi atau peradangan dalam waktu yang singkat. Dalam waktu panjang, itu beresiko hiperglikemi dan diabetes meritus," kata wanita yang juga merupakan Konsultan Gizi Royal Sport Performance Center Senayan City itu.
Serat dari sayuran juga menggerakkan peristaltik usus besar yang berfungsi memuluskan pekerjaannya untuk mengeluarkan zat toksik di dalam tubuh. Jika tidak didukung oleh serat, maka bisa timbul resiko kanker kolon.
Terakhir, sayur menghasilkan sisa basa yang sesuai dengan pH tubuh yang juga merupakan basa."Tubuh kita pH-nya basa. Jadi kalau kita mengonsumsi makanan lalu hasilnya asam, maka ginjal, hati dan paru-paru langsung bekerja untuk membasakan," kata Dr. Rita.
"Orang yang misalnya hanya makan protein saja bisa gagal ginjal karena ginjalnya bekerja keras untuk membasakan. Kalau kita makan sayur, maka itu akan membasakan dan kerja tubuh kita jadi tidak berat," imbuhnya.
Menurut Dr. Rita, hal ini membahayakan kesehatan dan memiliki dampak jangka pendek hingga panjang. Dampak jangka pendeknya dengan defisit energi tersebut menyebabkan proporsi tubuhnya akan menjadi tidak bagus.
Jadi, komposisi tubuhnya tidak hanya lemak saja yang hilang. Namun juga penurunan massa otot, tulang, dan total air dalam tubuh. Sementara, untuk jangka menengah, nantinya akan menjadi tidak cukup untuk memberikan energi ke kerja basa dan imunitas, dan bisa jatuh ke malnutrisi.
"Imunitas terganggu, dan kalau terekspos virus dan bakteri akan lebih mudah terpapar," jelasnya.
Lebih lanjut, untuk efek jangka panjangnya, akan terjadi resiko gagal ginjal, gangguan fungsi hati, gangguan lambung, hingga irama denyut jantung.
"Penyakit-penyakit ini adalah penyakit yang irreversible -- tidak bisa diperbaiki. Perbaikan pola hidup, pemberian obat, mereka tidak mengembalikan (organ) ke fungsinya hingga 100 persen seperti semula. Jadi, jangan coba-coba lakukan diet ekstrem ini," tukasnya.