Andi Ahmad S
Senin, 12 Januari 2026 | 16:14 WIB
Akses vital yang menjadi urat nadi perekonomian antara Jawa Barat dan Banten mendadak mati total ditutup Truk Tambang, Senin 12 Januari 2025 [Ist]
Baca 10 detik
  • Aksi Unjuk Rasa Besar Ribuan warga Cigudeg, Rumpin, dan Parungpanjang menggelar demonstrasi besar di Kantor Kecamatan Cigudeg, menyebabkan kemacetan parah dan lumpuhnya akses jalan nasional penghubung Bogor-Banten akibat blokade massa.

  • Metode Blokade Jalan Massa melakukan aksi pembakaran ban bekas dan memarkirkan truk di tengah jalan sebagai bentuk protes, yang mengakibatkan kepulan asap hitam serta terputusnya arus lalu lintas secara total.

  • Pemicu Konflik Ekonomi Demonstrasi ini dipicu oleh kebijakan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, terkait penutupan tambang yang dianggap mengancam mata pencaharian dan kelangsungan ekonomi ribuan warga yang bergantung pada sektor tersebut.

SuaraBogor.id - Situasi mencekam menyelimuti kawasan Bogor Barat pada awal pekan ini, Senin (12/1/2026). Akses vital yang menjadi urat nadi perekonomian antara Jawa Barat dan Banten mendadak mati total.

Ribuan warga yang berasal dari tiga kecamatan, yakni Cigudeg, Rumpin, dan Parungpanjang, tumpah ruah ke jalanan melakukan aksi unjuk rasa besar-besaran di depan Kantor Kecamatan Cigudeg.

Aksi ini bukan sekadar demonstrasi biasa. Eskalasi massa yang tinggi menyebabkan akses vital Jalan Nasional penghubung Bogor dan Banten terputus total, memaksa ribuan pengendara memutar balik atau terjebak berjam-jam di jalanan.

Pemandangan di lokasi kejadian menggambarkan amarah yang memuncak. Tak hanya blokade kendaraan, asap hitam tebal tampak membumbung tinggi ke langit Cigudeg.

Dilansir dari instagram @rekambogor massa terlihat membakar tumpukan ban bekas di tengah jalan sebagai simbol perlawanan terhadap kebijakan yang mereka anggap tidak adil.

Terlihat massa aksi juga memblokade jalan nasional dengan memarkir truk di tengah jalan hingga akses terganggu. Truk-truk tambang berukuran raksasa yang biasanya mengangkut material, kini dijadikan benteng pertahanan untuk menutup seluruh badan jalan, menutup celah bagi kendaraan lain untuk melintas.

Aksi turun ke jalan ini dipicu oleh keputusan politik yang berdampak langsung pada piring nasi ribuan warga yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertambangan.

Bagi warga di tiga kecamatan tersebut, tambang bukan sekadar lubang galian, melainkan sumber kehidupan utama bagi keluarga mereka.

Unjuk rasa tersebut dilakukan buntut dari dampak kebijakan penutupan tambang oleh Gubernur Jabar Dedi Mulyadi. Kebijakan yang mungkin ditujukan untuk tata kelola lingkungan yang lebih baik ini, dinilai warga dilakukan secara sepihak tanpa memikirkan dampak sosial ekonomi yang menyertainya.

Baca Juga: 'Sakti Banget', 3 Fakta Menarik Kenapa Tambang Emas Ilegal Cigudeg Susah Diberantas Kata Polisi

Warga merasa terpinggirkan dan kehilangan mata pencaharian dalam sekejap tanpa adanya solusi konkret atau kompensasi yang memadai.

Di satu sisi, kerusakan jalan dan lingkungan akibat aktivitas tambang di Parungpanjang dan sekitarnya sudah lama dikeluhkan netizen dan warga perumahan. Namun di sisi lain, penutupan mendadak tanpa jaring pengaman sosial memukul telak ekonomi rakyat kecil.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanda-tanda blokade akan dibuka. Aparat kepolisian dan TNI terus berupaya melakukan negosiasi dengan perwakilan massa agar setidaknya jalur darurat dapat dibuka.

Load More