Namun setelah tiga tahun mereka tempati dan anak keduanya lahir rumah itu pun mulai rapuh dan keropos. Tidak hanya itu, saat terjadi hujan deras rumah mereka bocor, bahkan ketika angin kencang berhembus kedua anaknya terpaksa harus kedinginan.
"Ya kalau sedang terjadi hujan, kehujanan karena air masuk kedalam rumah, waktu terjadi angin kencang sama masuk," katanya sambil tersenyum.
Semenjak pindah dari hutan, Pak Emun beralih menjadi sebagai penyadap karet disekitar hutan karet milik Perhutani di Kecamatan Mande hingga saat ini.
"Penghasilan dari hasil menjadi sebagai penyadap karet yaitu sebesar Rp 300 ribu perbulan. Alhamdulliah ada uang untuk menafkahi istri dan uang jajan anak sehari-hari," ucapnya.
Baca Juga:Jangan Diabaikan, Ini 5 Kesalahan Olahraga yang Harus Dihindari!
Selama mereka tinggal dengan rumah tidak layak huni, Emun dan Siti mengaku belum pernah mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah setempat maupun pemerintah daerah hingga pusat.
"Belum pernah mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah, cuman waktu itu sempat mengajukan bantuan untuk perbaikan rumah, namun hingga saat ini belum ada," kata Siti Robiah sambil menggendong anak keduanya.
Kini Emun dan Siti sudah menempati rumah cukup layak yang dibangunkan oleh Polres Cianjur. Bahkan rumah diatas lahan sektar 50 meter persegi yang mereka tempati pun sudah menjadi milik pribadinya.
Selain itu, mereka pasangan suami istri tersebut juga mendapatkan sejumlah bantuan bahan pokok, seperti beres, minyak goreng, mie instan hingga telur.
Kontributor : Fauzi Noviandi
Baca Juga:Perhatikan 7 Kebiasaan yang Dapat Menganggu Kualitas Tidur