Ucapan yang Benar di Waktu yang Salah
Meskipun demikian penjelasan seputar doa setelah membaca Al-Quran, bukan berarti ucapan shadaqallahul ‘azhim tidak benar adanya. Ucapan shadaqallahul ‘azhim sendiri memiliki arti Maha benarlah Allah yang Maha Agung, dan hal tersebut memang benar adanya. Akan tetapi untuk mewujudkan amalan yang benar seseorang harus mampu mengucapkan ucapan yang benar di waktu yang benar pula.
Ucapan shadaqallahul ‘azhim dapat dilafalkan ketika kita menemukan fenomena yang sesuai dengan yang telah disampaikan di dalam firman Allah Ta'ala. Ucapan ini tidak harus dibaca ketika membaca Al-Quran saja. Seorang muslim dapat mengucapkan shadaqallahul ‘azhim ketika dirinya mengimani kebenaran firman Allah.
Tidak Boleh Doa Setelah Membaca Al Quran?
Penjelasan singkat di atas hanya menjelaskan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkan umatnya doa spesifik yang harus dipanjatkan setelah membaca Al Quran. Akan tetapi hal tersebut bukan berarti umatnya dilarang berdoa setelah selesai membaca Al Quran.
Anda dapat memanjatkan doa apapun setelah membaca Al Quran, terutama ketika anda telah mengkhatamkan Al Quran.
Demikian halnya karena ketika seorang hamba mengkhatamkan Al-Quran maka posisinya adalah dekat dengan Allah Ta’ala. Sehingga seseorang yang telah khatam Al-Quran boleh memanfaatkan kesempatan itu untuk meminta kepada Allah.
Membaca Doa Kaffaratul Majlis
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Nasa'i di dalam 'Sunan Kubro', (10067) dan di dalam kitab 'Amalul Yaum Walailah', (308), dan Thabroni dalam Kitab 'Ad-Du'a', (1912), Aisyah berkata:
“Tidak pernah Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam duduk, atau membaca Al Quran atau menunaikan suatu shalat melainkan diakhiri dengan kata-kata ini. Berkata (Aisyah), saya bertanya,”Wahai Rasulullah, saya melihat Engkau tidak duduk dalam satu majelis, juga tidak membaca Al Quran juga Tidak menunaikan suatu shalat kecuali anda mengakhiri dengan kata-kata ini? Beliau menjawab, “Ya, siapa yang membaca dalam kondisi kebaikan, maka dikhiri dengannya melainkan akan ditempelkan dengan kebaikan tersebut. Dan siapa yang membacanya dalam konsisi kejelekan, maka ia menjadi penghapusnya: