- Masyarakat Kayumanis, Bogor menolak pembangunan fasilitas PSEL karena khawatir terhadap risiko kesehatan serta kenyamanan lingkungan tempat tinggal mereka.
- Warga mendesak Pemerintah Kota Bogor mencari lokasi alternatif karena wilayah Kayumanis dinilai terlalu padat untuk fasilitas pengolahan sampah.
- Kurangnya sosialisasi transparan dari pemerintah memicu ketidakpercayaan warga sehingga diperlukan dialog konstruktif terkait kebijakan pembangunan fasilitas tersebut.
Kurangnya komunikasi ini menimbulkan ketidakpercayaan dan memicu penolakan, karena warga merasa tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan yang berdampak langsung pada hidup mereka.
4. Desakan untuk Pertimbangan Aspirasi Masyarakat & Dialog Konstruktif
Meskipun menyadari bahwa penanganan sampah adalah kebutuhan kota, warga Kayumanis tetap berharap pemerintah dapat mempertimbangkan aspirasi masyarakat sebelum melanjutkan rencana tersebut. Mereka tidak menolak solusi sampah, tetapi menolak lokasi yang merugikan.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi terbaru dari pihak Pemerintah Kota Bogor terkait tindak lanjut penolakan warga tersebut. Keheningan ini justru dapat memperparah situasi.
Baca Juga:Tolak Bau Busuk, Emak-emak Kayumanis Kompak Hadang Proyek Pengolahan Sampah Pemkot Bogor
Diperlukan dialog konstruktif dan transparansi kebijakan dari Pemkot Bogor untuk mencari solusi terbaik yang dapat diterima semua pihak, memastikan bahwa program penanganan sampah tidak merugikan masyarakat sekitar.