Andi Ahmad S
Selasa, 03 Maret 2026 | 23:09 WIB
Ilustrasi Cap Go Meh di Bogor. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Bogor Street Festival Cap Go Meh 2026 berlangsung meriah pada 3 Maret didukung ribuan warga walau diguyur hujan deras.
  • Wali Kota Dedie A Rachim menyoroti komitmen toleransi dan silaturahmi yang menguat melalui gelaran ke-24 ini.
  • Festival ini berdampak ekonomi signifikan; 120 UMKM terlibat, serta parade budaya disesuaikan demi menghormati Ramadhan.

SuaraBogor.id - Kota Bogor sekali lagi membuktikan predikatnya sebagai kota toleran yang guyub dan penuh semangat kebersamaan. Bogor Street Festival Cap Go Meh (BSF CGM) 2026 disambut dengan antusiasme ribuan masyarakat" pada Selasa, 3 Maret 2026 malam.

Meskipun diguyur hujan deras, kegiatan yang telah menjadi ikon budaya Bogor ini tetap berlangsung meriah, menunjukkan semangat warga yang tak tergoyahkan.

Pantauan di lokasi, ribuan masyarakat tumpah ruah memadati Jalan Suryakencana, tepatnya di depan Vihara Dhanagun, sembari memakai jas hujan maupun payung untuk melihat berbagai penampilan parade budaya.

Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim, menyampaikan rasa syukurnya atas terselenggaranya acara yang kini telah memasuki pelaksanaan ke-24 kalinya.

Wali Kota Dedie A Rachim mencatat, meskipun secara historis acara ini sudah ada sejak 27 tahun lalu, sempat ada penundaan akibat bencana alam dan pandemi di tahun sebelumnya.

"Ini adalah bentuk komitmen masyarakat Bogor untuk menguatkan toleransi, keberagaman dan memperkuat tali silaturahmi antarumat beragama serta antarunsur masyarakat," kata Dedie A Rachim, dilansir dari MetroBogor -jaringan Suara.com.

Selain itu, ada pemandangan berbeda pada penyelenggaraan tahun ini, karena BSF CGM 2026 bertepatan dengan suasana bulan suci Ramadhan.

Dedie A Rachim menyebut fenomena ini sebagai keberagaman yang unik.

"Ini adalah Ramadhan pertama dari rangkaian tiga kali CGM yang akan jatuh di bulan suci ke depan. Nuansa Ramadhannya sangat kental, diawali dengan santunan dan buka puasa bersama anak yatim, hingga adanya fenomena war takjil selama tiga hari terakhir," ungkapnya.

Baca Juga: Pasutri Asal Cisarua Ditemukan Tak Bernyawa di Halaman Bangunan Kosong

Menurutnya, antusiasme masyarakat yang tetap tinggi menunjukkan bahwa Bogor adalah kota yang mampu merawat rasa saling menghormati di atas perbedaan identitas.

Selain dimensi budaya, BSF CGM 2026 yang telah masuk dalam Kalender Event Nasional (KEN) ini terbukti memberikan dampak ekonomi yang signifikan.

Dukungan langsung dari Kementerian Pariwisata berimbas pada lonjakan okupansi hotel dan geliat sektor UMKM.

Dedie A Rachim memaparkan bahwa terdapat sekitar 120 UMKM yang dilibatkan secara gratis dalam kegiatan ini.

"Luar biasa, saya mendengar ada beberapa stan yang omzet hariannya menembus angka di atas Rp20 juta. Jadi, event ini sukses bukan hanya dari sisi tradisi, tapi juga ekonomi," jelasnya.

Sementara itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah, festival ini parade budaya baru dimulai setelah jemaah muslim menyelesaikan ibadah salat Tarawih, yakni sekitar pukul 20.00 WIB.

Load More