Cigudeg Mencekam! 'Blunder' Ucapan Camat Picu Hujan Batu, Jalan Nasional Bogor Lumpuh Total

Mereka turun ke jalan, mengepung Kantor Kecamatan Cigudeg dengan satu tujuan menuntut keadilan atas piring nasi mereka yang terancam.

Andi Ahmad S
Senin, 12 Januari 2026 | 16:36 WIB
Cigudeg Mencekam! 'Blunder' Ucapan Camat Picu Hujan Batu, Jalan Nasional Bogor Lumpuh Total
Kantor Kecamatan Cigudeg Digeruduk Massa [Ist]
Baca 10 detik

Ribuan warga Cigudeg, Rumpin, dan Parungpanjang berdemonstrasi menuntut janji kompensasi Gubernur Jabar, pembukaan kembali tambang demi ekonomi, penyediaan lapangan kerja, serta percepatan pembangunan jalan khusus tambang yang belum terealisasi.

Di tengah guyuran hujan, massa menutup jalan nasional menggunakan truk tambang sebagai bentuk protes. Mereka mendesak Bupati Bogor agar tidak tinggal diam melihat kondisi ekonomi warga yang terpuruk.

Demonstrasi berakhir ricuh dengan perusakan kantor kecamatan setelah pernyataan Camat Cigudeg dinilai menyinggung perasaan warga. Massa yang kecewa melempari gedung dengan batu dan membakar ban di jalanan.

SuaraBogor.id - Senin siang (12/1/2026), wilayah Bogor Barat berubah menjadi lautan manusia. Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Bogor seolah tak mampu mendinginkan amarah ribuan warga dari Kecamatan Cigudeg, Rumpin, dan Parungpanjang.

Mereka turun ke jalan, mengepung Kantor Kecamatan Cigudeg dengan satu tujuan menuntut keadilan atas piring nasi mereka yang terancam.

Aksi yang bermula sebagai unjuk rasa menuntut hak ekonomi ini berubah menjadi kericuhan mencekam. Jalan Nasional yang menjadi urat nadi penghubung Bogor-Banten lumpuh total.

Bukan hanya oleh lautan manusia, tetapi juga oleh barikade truk-truk tambang raksasa yang diparkir melintang, menutup akses bagi siapa saja yang hendak melintas.

Baca Juga:Puncak Bhakti Lintas Agama di Bogor: Bukti Nyata Toleransi Bukan Sekadar Wacana

Massa aksi membawa kepedihan mendalam akibat kebijakan penutupan tambang yang diinisiasi oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Bagi ribuan warga ini, tambang bukan sekadar debu dan batu, melainkan sumber kehidupan.

Dalam orasinya, para demonstran menyuarakan empat tuntutan krusial yang harus segera dipenuhi pemerintah:

Realisasi Kompensasi: Menagih janji Gubernur Dedi Mulyadi terkait dana kompensasi bagi warga yang kehilangan mata pencaharian akibat penutupan tambang.

Pembukaan Kembali Tambang: Mendesak agar perusahaan tambang di Rumpin dan Cigudeg beroperasi kembali demi memutar roda ekonomi masyarakat.

Lapangan Pekerjaan: Menuntut pemerintah menyediakan alternatif lapangan kerja yang nyata bagi korban PHK massal akibat kebijakan ini.

Baca Juga:Ribuan Warga Blokade Jalan Nasional Bogor-Banten dengan Truk, Protes Keras Kebijakan Dedi Mulyadi

Jalur Khusus Tambang: Meminta realisasi segera pembangunan jalan khusus tambang yang selama ini hanya menjadi wacana, agar konflik truk dan warga jalan raya bisa berakhir.

Salah satu orator, Ahmad Gojali alias Bule, dengan lantang menyentil pimpinan daerah. Ia meminta Bupati Bogor Rudy Susmanto dan Wakilnya untuk tidak menutup mata.

"Dengarkan aspirasi masyarakat," tegas Ahmad Gojali di atas mobil komando.

Akses vital yang menjadi urat nadi perekonomian antara Jawa Barat dan Banten mendadak mati total ditutup Truk Tambang, Senin 12 Januari 2025 [Ist]
Akses vital yang menjadi urat nadi perekonomian antara Jawa Barat dan Banten mendadak mati total ditutup Truk Tambang, Senin 12 Januari 2025 [Ist]

Situasi yang awalnya tegang namun terkendali, mendadak berubah menjadi chaos. Titik baliknya terjadi ketika Camat Cigudeg, Ade Zulfahmi, memberanikan diri naik ke mobil komando untuk merespons tuntutan warganya.

Namun, alih-alih menenangkan, kalimat yang keluar dari mulut orang nomor satu di kecamatan itu justru dianggap melukai perasaan demonstran yang sedang berjuang demi perut keluarga.

Di hadapan ribuan massa yang basah kuyup oleh hujan, Ade Zulfahmi berucap, "Saya bukan orang pergerakan," ucapnya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini