- Siswa SMAN 1 Parung bernama M Nabil Ikhwan menulis surat terbuka yang viral menolak program Makan Bergizi Gratis.
- Nabil menuntut prioritas anggaran dialihkan untuk meningkatkan kesejahteraan guru honorer yang gajinya masih di bawah standar kelayakan.
- Surat tersebut menyoroti kekhawatiran mengenai risiko kesehatan pangan serta potensi penyimpangan anggaran dalam pelaksanaan program di sekolah.
SuaraBogor.id - Dunia pendidikan di Kabupaten Bogor kembali dihebohkan dengan sebuah surat terbuka yang mendadak viral di media sosial.
Surat yang ditujukan kepada Kepala Sekolah SMAN 1 Parung, Kabupaten Bogor, ini diunggah oleh akun X (Twitter) @menuembegejelek dan ditulis oleh seorang remaja yang diduga merupakan siswa bernama M Nabil Ikhwan.
Surat yang ditempel di papan pengumuman sekolah tersebut memuat kritik tajam terhadap kebijakan di lingkungan sekolah, khususnya terkait kesejahteraan guru honorer dan rencana pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam pembukaannya, Nabil mengaku sebagai bagian dari keluarga besar SMAN 1 Parung, menyampaikan aspirasi atas dasar kepedulian terhadap keadilan sosial dan keselamatan warga sekolah.
Baca Juga:Viral! Nama Bupati Bogor Dicatut Jadi Pembina Media Milik Oknum Terduga Mafia Obat & Gas Elpiji
Namun, inti suratnya sangat tegas Nabil secara personal meminta pihak sekolah untuk menolak atau menunda partisipasi dalam program MBG.
"Melalui surat ini, saya secara personal menyatakan keberatan dan memohon agar pihak sekolah menolak atau menunda sementara penerimaan program MBG di sekolah kita," demikian isi surat yang ditulis Nabil, dilansir dari MetroBogor -jaringan Suara.com, Rabu (1/4/2026).
Ia menilai, ada sejumlah persoalan mendasar yang perlu diselesaikan terlebih dahulu sebelum program tersebut dijalankan.
Salah satu poin krusial yang disorot adalah ketimpangan anggaran, terutama terkait kondisi guru honorer. Dalam surat itu disebutkan, masih banyak tenaga pendidik yang mengalami keterlambatan gaji atau menerima upah di bawah standar kelayakan.
Selain itu, Nabil juga menyinggung aspek keamanan pangan. Kekhawatiran muncul terkait potensi risiko kesehatan siswa, jika distribusi makanan tidak diawasi secara ketat.
Baca Juga:DPRD Kota Bogor Apresiasi Polda Jabar dan Polresta Bogor Kota Gelar Gerakan Pangan Murah
"Saya menuntut agar pemerintah melalui sekolah mendahulukan kesejahteraan pengajar sebelum memaksakan program logistik makanan yang mahal dan berisiko," sambungnya, menggarisbawahi urgensi prioritas anggaran.
Tak hanya itu, dugaan risiko penyimpangan anggaran juga ikut disorot oleh Nabil. Ia menilai, sistem pengawasan program MBG masih belum matang, sehingga berpotensi membuka celah praktik yang merugikan.
Selain itu, ia juga mengacu pada informasi bahwa program MBG tidak bersifat wajib, sehingga sekolah dinilai memiliki ruang untuk mempertimbangkan kembali keikutsertaan.
Di bagian akhir suratnya, Nabil menegaskan bahwa kesehatan siswa dan kesejahteraan guru merupakan fondasi utama pendidikan.
Ia juga berharap, pihak sekolah dapat mempertimbangkan aspirasi tersebut secara serius.
"Demikian surat terbuka ini saya sampaikan. Saya berharap ibu kepala sekolah yang saya hormati dapat berdiri bersama saya untuk menyuarakan keadilan ini,” tutupnya.